Huntara gempa NTT yang dibangun BNPB mulai menunjukkan progres, dengan 124 unit sudah selesai per 29 September 2026. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto juga memerintahkan dana stimulan rumah rusak ringan dan sedang segera disalurkan pada Oktober ini.
Suharyanto mengatakan pihaknya terus mempercepat realisasi bantuan bagi warga terdampak gempa magnitudo 7,7 yang terjadi pada Agustus lalu. Tujuh kabupaten terdampak, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ende, Ngada, Sikka, dan Flores Timur. Penjelasan itu disampaikan dalam keterangan tertulis.
Skema Bantuan Huntara, Huntap, dan Dana Stimulan
Skema bantuan meliputi pembangunan hunian sementara (huntara), hunian tetap (huntap), Dana Tunggu Hunian (DTH), serta Dana Stimulan Rumah Rusak Ringan dan Sedang. Untuk dana stimulan, data penerima kini memasuki proses verifikasi dan sebagian besar sudah terverifikasi.
“Saya sudah perintahkan agar di bulan Oktober ini, secepatnya dana tersebut sudah bisa disalurkan dan dicairkan oleh warga yang berhak menerima,” ucap Suharyanto.
Warga yang rumahnya rusak ringan akan menerima bantuan perbaikan sebesar Rp15 juta, sedangkan rumah rusak sedang mendapat Rp30 juta. Dana disalurkan ke rekening penerima setelah verifikasi. Dari dana yang masuk, 75 persen dapat dicairkan tunai, dan sisanya dicairkan berdasarkan bon atau bukti pembelian kebutuhan material. “Saya tegaskan, dana itu digunakan untuk perbaikan rumah ya,” kata dia.
Huntara Gempa NTT dan Pilihan Hunian Tetap
Bagi warga yang rumahnya rusak berat, pemerintah menyediakan huntara yang dilanjutkan dengan pembangunan huntap. Warga yang memilih tidak tinggal di huntara mendapat DTH sebesar Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan sambil menunggu huntap selesai dibangun.
Huntara yang dibangun BNPB berukuran 4×6 meter dengan satu kamar dan satu kamar mandi atau toilet. Rumah Gratis sebagai Huntap setara rumah tipe 36 dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu, dan satu kamar mandi. Suharyanto menegaskan warga boleh meminta huntap pengganti dibangun di atas lahan milik mereka.
Ada tiga skema pembangunan. Skema komunal berupa relokasi terpusat di satu kawasan pemukiman baru. Skema in situ dibangun di atas tapak asal. Skema mandiri mirip in situ, tetapi dibangun di tanah milik sendiri di lokasi baru. “Sembari pendataan berlangsung, proses pembangunan huntara dan huntap sudah dilakukan. Bahkan sudah cukup banyak huntara yang pembangunannya selesai 100 persen,” ujarnya.
Data Rumah Rusak dan Progres Pembangunan
Data BNPB per 27 September 2026 mencatat rumah rusak berat, sedang, dan ringan yang terverifikasi sementara di NTT mencapai 44.767 unit. Target penerima DTH dan huntara per 28 September 2026 berjumlah 4.008 penerima, dengan estimasi pembiayaan Rp136.272.000.000.
Untuk progres huntara per 29 September 2026, sebanyak 124 unit sudah selesai dibangun. Sebanyak 861 unit sedang dibangun dengan progres kurang dari 50 persen, dan 117 unit sudah melewati 50 persen. Sementara itu, 299 unit masih pada tahap penyiapan lahan, survei titik lokasi, dan droping material.
Secara keseluruhan, percepatan huntara gempa NTT dan pencairan dana stimulan pada Oktober menjadi ujian bagi BNPB. Warga berharap verifikasi data rampung cepat agar pembangunan hunian dan perbaikan rumah segera berjalan.
