Sinar Jiwa – Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (21/5) pagi. Rupiah berada di level Rp17.653 per dolar AS atau naik tipis 0,50 poin dibanding perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah fluktuasi mata uang Asia dan negara maju yang bergerak bervariasi pada pembukaan pasar.
Secara faktual, penguatan rupiah juga dipengaruhi sentimen eksternal setelah muncul sinyal positif dari pembicaraan internasional yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen tersebut ikut mendorong penguatan mata uang Garuda pada perdagangan hari ini.
“Kenaikan suku bunga ‘jumbo’ oleh BI pada hari Rabu juga masih mendukung rupiah,” ujar Lukman.
Dalam konteks tersebut, kebijakan suku bunga Bank Indonesia masih menjadi faktor penting yang menopang stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.
Pergerakan Mata Uang Asia Berlangsung Variatif
Yang jadi sorotan, mata uang di kawasan Asia menunjukkan pergerakan campuran pada awal perdagangan.
Yen Jepang tercatat menguat 0,03 persen. Yuan China juga naik 0,05 persen, sementara peso Filipina menguat 0,18 persen.
Di sisi lain, won Korea Selatan melemah 0,40 persen dan baht Thailand turun 0,06 persen.
Dolar Singapura ikut melemah 0,02 persen pada perdagangan pagi. Sementara itu, dolar Hong Kong menguat tipis sebesar 0,02 persen.
Dalam praktiknya, pergerakan mata uang Asia masih dipengaruhi perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan bank sentral masing-masing negara.
Yang menarik, penguatan rupiah terjadi ketika sebagian mata uang kawasan justru berada dalam tekanan.
Hal tersebut menunjukkan sentimen domestik masih memberikan pengaruh terhadap stabilitas rupiah dalam jangka pendek.
Kebijakan Bank Indonesia Jadi Penopang Rupiah
Selain sentimen global, pasar juga menyoroti dampak kebijakan suku bunga Bank Indonesia terhadap pergerakan rupiah.
Kenaikan suku bunga acuan dinilai membantu menjaga daya tarik aset domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pada sisi lain, mata uang utama negara maju juga bergerak bervariasi.
Euro Eropa tercatat menguat 0,02 persen dan franc Swiss naik 0,06 persen. Namun poundsterling Inggris melemah tipis 0,01 persen.
Dolar Australia turun cukup dalam sebesar 0,43 persen. Sementara dolar Kanada melemah 0,08 persen.
Dalam perkembangan selanjutnya, pelaku pasar masih memantau arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta perkembangan geopolitik internasional.
Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak stabil sepanjang perdagangan hari ini.
Ia memprediksi nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Yang patut dicatat, stabilitas rupiah menjadi perhatian penting karena berkaitan langsung dengan arus investasi, inflasi, dan biaya impor nasional.
Dalam realitas di lapangan, sentimen global dan kebijakan suku bunga domestik diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat.
