Nilai tukar rupiahNilai tukar rupiah

Sinar Jiwa – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari ini setelah terkoreksi 20 poin ke level Rp17.346 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah ini dipengaruhi tekanan eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik global dan sentimen pasar terhadap kebijakan Amerika Serikat.

Data menunjukkan rupiah turun 0,12 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.326 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar keuangan.

Tekanan Geopolitik Pengaruhi Nilai Tukar Rupiah

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Rencana Presiden AS Donald Trump terkait blokade laut terhadap Iran menjadi perhatian pasar.

Kekhawatiran atas skenario tersebut diperparah oleh laporan pertemuan eksekutif minyak dengan Trump,” ujarnya.

Menurutnya, potensi blokade berkepanjangan dapat memicu Iran untuk menutup Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Dalam praktiknya, sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi.

Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Pasar

Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan telah terjadi sejak akhir Februari 2026. Kondisi ini membuat distribusi minyak global mengalami perlambatan.

Di sisi lain, upaya pembukaan kembali jalur tersebut masih menghadapi tantangan. Amerika Serikat disebut tengah mendorong pembentukan koalisi internasional.

Trump telah meminta negara lain membantu membuka kembali Hormuz,” kata Ibrahim.

Ibrahim Assuaibi
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi

Namun, sejumlah sekutu utama AS belum memberikan dukungan. Hal ini menambah ketidakpastian di pasar global.

Sentimen Kebijakan The Fed dan Pengaruhnya

Selain faktor geopolitik, sentimen pasar juga dipengaruhi dinamika di bank sentral AS. Pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Ia disebut menyoroti kondisi internal The Fed, termasuk isu independensi lembaga tersebut. Hal ini menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter.

Independensi Fed berada dalam risiko,” ungkap Ibrahim mengutip pernyataan tersebut.

Di waktu yang sama, negosiasi antara AS dan Iran belum menunjukkan kemajuan. Perbedaan pandangan terkait program nuklir menjadi hambatan utama dalam proses mediasi.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan pelemahan. Rupiah tercatat berada di level Rp17.378 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.324.

Pergerakan ini menunjukkan tekanan eksternal masih dominan dalam memengaruhi nilai tukar rupiah. Kondisi pasar global yang belum stabil menjadi faktor utama dalam fluktuasi tersebut.