sinarjiwa.id – TEHERAN, 12 Januari 2026 — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa protes merupakan hak legal rakyat. Namun, pada titik ini, ia meminta masyarakat menjauh dari kelompok perusuh yang dinilai telah melampaui batas dengan aksi kekerasan, termasuk pembakaran masjid dan Al-Qur’an. Menurutnya, kelompok tersebut tidak bergerak sendiri, melainkan dilatih oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel.
Secara faktual, pernyataan ini disampaikan Pezeshkian dalam wawancara televisi nasional saat gelombang demonstrasi masih berlangsung di sejumlah kota Iran. Artinya, pemerintah berusaha menarik garis tegas antara protes damai dan kerusuhan terorganisasi.
Pemerintah Akui Protes, Tolak Kekerasan
Dalam pembacaan sementara pemerintah, Pezeshkian menilai tuntutan ekonomi masyarakat sebagai hal sah. Ia menjelaskan kabinetnya telah mendengar langsung keluhan pedagang dan pengusaha pasar, bahkan mengundang mereka berdialog setiap hari.

“Kami menganggap protes rakyat sebagai hal yang sah,” kata Pezeshkian. Ia menambahkan pemerintah berkewajiban berbicara dengan warga dan tidak mengabaikan kekhawatiran yang dinilai rasional.
Namun pada kenyataannya, ia menegaskan bahwa aksi pembakaran masjid, perusakan fasilitas publik, serta pembakaran Al-Qur’an bukan bagian dari aspirasi rakyat Iran. Menurutnya, tindakan tersebut dirancang untuk memicu perpecahan.
Tuduhan Pelibatan Israel dan AS
Yang jadi sorotan, Pezeshkian menyebut musuh Iran gagal menciptakan kekacauan saat konflik 12 hari pada Juni 2025. Kini, kata dia, tekanan ekonomi dimanfaatkan untuk memperkeruh situasi.
Lebih jauh, ia menuding Israel dan Amerika Serikat telah melatih elemen tertentu, termasuk mengerahkan aktor dari luar negeri. Di lapangan, kelompok ini dituding melakukan pembakaran masjid, membakar toko pasar, hingga membunuh warga sipil dengan senjata api.
“Tentu saja para penjahat ini bukanlah orang biasa dan bukan berasal dari Iran,” tegasnya.
Dampak Kerusuhan dan Eskalasi Regional
Sementara itu, situasi memburuk setelah Farajollah Shooshtari, aktivis sosial dan putra mantan komandan IRGC, tewas ditembak di Mashhad. Di sisi lain, laporan internasional menyebut Washington tengah menimbang opsi tekanan tambahan terhadap Teheran, termasuk pengerahan aset militer.
Di waktu bersamaan, pemadaman internet membuat situasi sulit diverifikasi. Meski begitu, video yang bocor menunjukkan masjid terbakar dan massa terus turun ke jalan.
