OMMHA Dorong Riset Inklusif Atasi Keterbatasan Data Kesehatan Jiwa

Kesehatan Jiwa OMMHA

Sinar Jiwa – Program One Map for Mental Health Atlas (OMMHA) mendorong pendekatan riset inklusif untuk menjawab keterbatasan data kesehatan jiwa di Indonesia. Pendekatan ini menekankan pentingnya keterlibatan langsung kelompok dengan pengalaman kesehatan mental dalam proses penelitian.

Sorotan ini mengemuka dalam kick-off meeting OMMHA tingkat nasional yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Di forum tersebut, isu utama yang muncul bukan hanya soal keterbatasan data, tetapi juga bagaimana data kesehatan jiwa selama ini belum sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan.

Research Advisor OMMHA dari University of Sydney, Hans Pols, menilai pendekatan penelitian konvensional kerap melewatkan sumber informasi penting. Ia menegaskan bahwa individu dengan pengalaman langsung memiliki perspektif yang tidak tergantikan.

Menurut saya kelompok ini dapat membantu mengidentifikasi sumber daya dan layanan yang mungkin tidak terlihat,” ujarnya.

Baca Juga :  Guru Gantung Diri di Pacitan, Riwayat Gangguan Jiwa Terungkap

Riset Inklusif sebagai Jawaban Keterbatasan Data

Dalam sudut pandang ini, keterbatasan data kesehatan jiwa tidak hanya soal jumlah, tetapi juga kualitas dan representasi. Data yang tersedia dinilai belum cukup menangkap kebutuhan kelompok rentan secara utuh.

Ketua Komisi Nasional Disabilitas, Dante Rigmalia, menegaskan bahwa pelibatan penyandang disabilitas mental psikososial menjadi langkah mendasar dalam memperbaiki kualitas riset.

Menurutnya, kelompok ini memiliki posisi hukum yang jelas sebagai bagian dari penyandang disabilitas. Karena itu, keterlibatan mereka bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan dalam penelitian.

Kami mendorong agar penyandang disabilitas mental dapat dilibatkan secara bermakna dalam proses penelitian ini,” kata dia.

Pada titik ini, pendekatan inklusif dipandang mampu membuka akses terhadap informasi yang selama ini tidak terdokumentasi dalam sistem formal.

Keterbatasan Sistem dan Realitas di Lapangan

Di sisi lain, keterbatasan data kesehatan jiwa juga berkaitan dengan sistem yang belum terintegrasi. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Wahyu Pudji Nugraheni.

Baca Juga :  Guru Gantung Diri di Pacitan, Riwayat Gangguan Jiwa Terungkap

Ia menyebut bahwa tantangan kesehatan jiwa di Indonesia mencakup kesenjangan layanan dan lemahnya sistem informasi. Kondisi ini membuat data yang tersedia tidak terhubung secara menyeluruh.

Adanya keterbatasan, kesenjangan layanan, serta sistem informasi layanan kesehatan jiwa yang belum terintegrasi,” ujarnya.

Dalam praktiknya, kondisi ini menyulitkan pemetaan kebutuhan masyarakat secara akurat. Akibatnya, layanan yang diberikan sering kali tidak sejalan dengan kebutuhan riil di lapangan.

Perluasan Perspektif dalam Pengumpulan Data

Yang kerap luput diperhatikan, data kesehatan jiwa tidak hanya bersumber dari fasilitas layanan kesehatan. Banyak pengalaman dan kebutuhan masyarakat yang tidak tercatat dalam sistem resmi.

Pendekatan OMMHA mencoba memperluas perspektif tersebut dengan memasukkan pengalaman individu sebagai bagian dari data. Ini berarti, sumber informasi tidak lagi terbatas pada institusi, tetapi juga pada individu yang mengalami langsung.

Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, sebelumnya menyoroti kesenjangan evidence base antara kesehatan jiwa dan penyakit menular.

Baca Juga :  Guru Gantung Diri di Pacitan, Riwayat Gangguan Jiwa Terungkap

Menurutnya, pada penyakit menular, data berbasis penelitian sudah relatif tersedia. Namun pada kesehatan jiwa, khususnya dalam perspektif kesehatan masyarakat, ketersediaannya masih minim.

Ketersediaan data dan penelitian masih sangat terbatas,” ujarnya.