Sentuhan Kasih di Balik Tembok Rumah Syukur Shiddiqiyyah Jombang

Pembangunan Rumah Syukur

sinarjiwa.id—Jombang, Di balik dinginnya adukan semen dan kerasnya batu bata, terpancar kehangatan kasih sayang dari jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah di Ploso, Jombang. Melalui program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS), zikir mereka tidak lagi sekadar gema di dalam masjid, melainkan menjelma menjadi tempat bernaung yang aman bagi warga kurang mampu yang selama ini terpinggirkan.

Program ini lahir dari ketulusan hati para jamaah yang memandang kemerdekaan sebagai anugerah Tuhan yang paling indah. Bagi mereka, mencintai Indonesia bukan sekadar mengibarkan bendera, melainkan memastikan tidak ada saudara sebangsa yang kedinginan tanpa atap. Inilah bentuk pengabdian yang menyentuh sisi kemanusiaan paling dalam, di mana iman bekerja melalui tangan-tangan yang membantu sesama.

Zikir yang Membangun Harapan Warga

Setiap rumah yang berdiri tegak adalah monumen cinta tanah air yang nyata. Jamaah Shiddiqiyyah bergerak secara mandiri, mengumpulkan receh demi receh dan tenaga untuk membangun rumah warga tanpa mengharap imbalan. Mereka percaya bahwa setiap paku yang ditancapkan adalah bagian dari perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui pelayanan kepada manusia.

Baca Juga :  Sentuhan Kasih Ramadan: Shiddiqiyyah Alirkan Rp3 Miliar untuk Kebahagiaan Yatim

Pesan Menyentuh Sang Mursyid tentang Tanah Air

Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, dalam berbagai kesempatan pengajian di Jombang pada tahun 2025, sering mengingatkan jamaahnya tentang esensi syukur. “Ibadah sosial adalah wujud syukur atas kemerdekaan,” tuturnya dengan lembut namun penuh penekanan. Beliau menegaskan bahwa membangun rumah bagi fakir miskin adalah cara terbaik untuk melunasi utang budi kepada bumi pertiwi.

Nasionalisme dalam pandangan Shiddiqiyyah adalah getaran jiwa yang menyatu dengan doa. Menghormati Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dipahami sebagai ekspresi syukur kolektif atas martabat bangsa. Gerakan ini membuktikan bahwa spiritualitas yang dalam akan selalu melahirkan kepedulian sosial yang tulus, menciptakan harmoni antara ketaatan beragama dan pengabdian pada negara.

Kisah pembangunan rumah ini menjadi bukti bahwa agama adalah sumber energi positif yang tak terbatas. Dari Ploso, sebuah pesan cinta dikirimkan ke seluruh penjuru negeri: bahwa jalan menuju Tuhan bisa ditempuh dengan cara membangun rumah bagi mereka yang membutuhkan. Iman, pada akhirnya, adalah tentang bagaimana kita menjadi manfaat bagi orang lain dan menjaga kehormatan tanah air tempat kita berpijak.***

Baca Juga :  Getaran Zikir Kuno Thoriqoh Shiddiqiyyah Kembali Bersemi di Jombang