UGM: Kerusakan Hutan Jadi Penentu Banjir Bandang Sumatera

Tangkapan layar foto tumpukan kayu di Riau, Sumatera. Foto udara penebangan di hutan dataran rendah Riau, Indonesia, dari Mongabay.

sinarjiwa.id — Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Hatma Suryatmojo, memaparkan bahwa bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 lahir dari luka ekologis yang sudah lama terbentuk.

Dalam rilis resmi, Rabu (3/12/2025), ia menjelaskan bahwa hilangnya tutupan hutan membuat tanah kehilangan kemampuan menahan air. Ketika hujan ekstrem hadir, sistem alam yang telah melemah tidak mampu bertahan.

Hatma menggambarkan hutan sebagai “spons raksasa” yang menyerap air hujan dan melepaskannya perlahan. Namun dalam tiga dekade terakhir, kemampuan itu menurun drastis.

Aceh kehilangan lebih dari 700 ribu hektare hutan. Sumatera Utara hanya menyisakan sekitar 29 persen tutupan hutan pada 2020. Di Sumatera Barat, lebih dari 740 ribu hektare hilang sejak 2001. Ia menyebut semua ini sebagai rapuhnya landasan ekologis Sumatera.

Baca Juga :  Siklon Senyar Picu Banjir Sumatera, Hujan Lampaui Batas Desain

Ketika Siklon Tropis Senyar memicu hujan lebih dari 300 milimeter per hari, kawasan hulu tidak lagi mampu menahan beban itu. Lumpur, batu, dan kayu terseret turun, membentuk gelombang banjir bandang yang menerjang permukiman. “Hutan hulu yang hilang berarti hilangnya sabuk pengaman bagi manusia di bawahnya,” ujar Hatma.

Ia menekankan pentingnya pemulihan ekosistem yang melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat. Reforestasi, penghentian pembukaan lahan, dan penegakan tata ruang merupakan langkah yang tidak bisa lagi ditunda. “Ketika manusia merusak alam melampaui batasnya, bencana adalah jawaban yang datang tanpa kompromi,” tegasnya.***