9 Ramadan dan Rumah Layak Huni Jaga Kemerdekaan Ramadan

kemerdekaan Ramadan

sinarjiwa.id – 9 Ramadan bagi jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah bukan sekadar tanggal hijriah, melainkan momentum kemerdekaan Ramadan yang dirawat dengan doa dan aksi sosial melalui program Rumah Layak Huni. Di Ploso, Jombang, peringatan itu menjelma ruang syukur kolektif yang mengikat sejarah dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas.

Setiap malam 9, 10, hingga 11 Ramadan, ribuan jamaah berkumpul untuk doa bersama dan sujud syukur massal. Sujud itu dimaknai sebagai pengakuan bahwa kemerdekaan adalah rahmat yang turun pada bulan suci. Di waktu bersamaan, narasi sejarah ditegaskan ulang.

Mursyid Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, berulang kali memisahkan makna 17 Agustus 1945 dan 18 Agustus 1945. Menurutnya, 17 Agustus adalah hari kemerdekaan bangsa, sedangkan 18 Agustus menandai berdirinya negara sebagai entitas hukum dan politik.

Perspektif itu tidak dimaksudkan mengganti tanggal nasional. Namun, ia menempatkan kemerdekaan Ramadan sebagai refleksi spiritual yang berjalan berdampingan dengan kalender Masehi. Dalam sudut pandang ini, Ramadan menjadi ruang menghidupkan ingatan kebangsaan secara batin.

Baca Juga :  Sentuhan Digital dan Melodi Juara: Prestasi Membanggakan Santri THGB Shiddiqiyyah

Ruang Syukur yang Tak Berhenti di Ritual

Yang jadi sorotan, rasa syukur tidak berhenti pada seremoni. Jamaah mengartikulasikan kemerdekaan Ramadan dalam kerja nyata. Di bawah naungan OPSHID dan DHIBRA, lahirlah program RSKILHS—Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah.

Program ini membangun Rumah Layak Huni tipe 36 untuk keluarga duafa. Biaya per unit berkisar Rp70 juta hingga Rp85 juta, dihimpun dari partisipasi jamaah. Hingga 2025, sebanyak 2.232 unit rumah telah diserahterimakan di berbagai daerah.

Sekretaris Jenderal DHIBRA Pusat, Khoirul Mudzakkir, menyebut program itu sebagai “cara unik mensyukuri kemerdekaan,” yang diwujudkan dalam bentuk rumah permanen bagi warga rentan.

Sujud Syukur dan Bata yang Berdiri

Dalam praktiknya, sujud syukur dan pembangunan Rumah Layak Huni berjalan beriringan. Doa dipanjatkan pada malam Ramadan, sementara rumah-rumah berdiri di pelosok negeri. Artinya, kemerdekaan Ramadan tidak hanya diingat, tetapi dirasakan dalam hunian yang lebih layak.

Baca Juga :  Kurang Dari 100 Hari, Pemuda Shiddiqiyyah, Bangun 2 Unit Rumah Layak Huni Di Tasikmalaya

Selain pembangunan rumah, santunan kepada veteran, yatim piatu, dan kaum duafa juga disalurkan setiap Ramadan. Ribuan paket bantuan dibagikan sebagai bagian dari tasyakuran.

Bagi jamaah, cinta tanah air menemukan wujudnya dalam keberpihakan pada yang lemah. Di Ploso, api kemerdekaan itu tidak menunggu Agustus. Ia menyala setiap Ramadan, saat doa dan Rumah Layak Huni berdiri bersama dalam bingkai kemerdekaan Ramadan.