sinarjiwa.id — Suasana mencekam menyelimuti perbatasan setelah Pakistan secara resmi menyatakan status “perang terbuka” dengan pemerintah Taliban Afghanistan pada Jumat (27/2/2026). Deklarasi ini menyusul rentetan ledakan di Kabul dan pertempuran fisik yang meluas di sepanjang Garis Durand, meninggalkan kekhawatiran besar akan keselamatan warga sipil yang terjebak di tengah sengketa dua negara bertetangga tersebut.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, mengungkapkan bahwa tindakan militer ini diambil setelah kesabaran negaranya habis akibat meningkatnya aksi terorisme. Pakistan bahkan telah melancarkan serangan udara ke titik-titik di Kandahar dan Paktika sebagai respons tegas atas agresi yang dirasakan dari wilayah Afghanistan.
Tangis di Perbatasan dan Nasib Warga Sipil
Konflik ini memicu keprihatinan mendalam dari Sekjen PBB Antonio Guterres yang mendesak perlindungan bagi mereka yang tidak berdosa. “Guterres menggarisbawahi perlunya kedua pihak memprioritaskan perlindungan warga sipil seiring berlanjutnya konfrontasi,” ujar juru bicara PBB, Stephane Dujarric. Di tengah bulan suci Ramadan, Iran juga mengingatkan bahwa saat ini seharusnya menjadi waktu untuk pengendalian diri dan kasih sayang antar sesama Muslim.
Data korban mulai bermunculan dengan klaim yang saling bertentangan. Pakistan mengeklaim telah menewaskan 133 pejuang Taliban, namun di sisi lain, pihak Taliban menyebut 55 tentara Pakistan tewas dalam operasi ofensif mereka. Ketidakpastian angka ini menambah kabut kesedihan di wilayah konflik yang kian memanas.
Harapan Perdamaian di Balik Diplomasi
Mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai menyuarakan pesan emosional tentang persatuan rakyatnya dalam membela tanah air. Karzai meminta Pakistan untuk tidak menyelesaikan masalah internalnya melalui kekerasan lintas batas. Ia menekankan bahwa hubungan yang beradab dan saling menghormati adalah satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kekerasan ini.
Dunia internasional kini menaruh harapan pada China dan Rusia yang telah menawarkan diri sebagai penengah. Dengan ancaman perang yang kian nyata, dialog diplomatik menjadi satu-satunya cahaya redup bagi kembalinya kedamaian di tanah Afghanistan dan Pakistan demi masa depan generasi muda di sana. ***
