Ekonomi Thailand Melambat, BoT Sebut Skenario Terburuk Tanpa Batas

ekonomi Thailand melambat

Sinar Jiwa – Ekonomi Thailand melambat tajam pada 2026 seiring eskalasi konflik Iran, dengan Bank of Thailand (BoT) memperingatkan bahwa skenario terburuk tidak memiliki batas yang jelas. Proyeksi ini muncul setelah tekanan berlapis menghantam sektor energi, pariwisata, hingga arus modal asing.

Pernyataan keras itu disampaikan langsung oleh Asisten Gubernur BoT, Chayawadee Chai-anant. Ia menegaskan bahwa arah ekonomi saat ini menunjukkan pelemahan yang semakin nyata.

Terkait skenario terburuk, tidak ada batasannya. Memang seburuk itu,” ujarnya dalam pertemuan IMF-Bank Dunia di Washington.

Dalam konteks tersebut, peringatan ini menjadi sinyal bahwa ketidakpastian tidak lagi bersifat jangka pendek.

Proyeksi Pertumbuhan Direvisi di Tengah Tekanan Global

Bank sentral Thailand memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 1,3 persen untuk tahun 2026. Angka ini turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,9 persen pada Desember.

Baca Juga :  Di Balik Penolakan Iran, Siapa Pengambil Keputusan Perang?

Revisi ini dilakukan dengan asumsi konflik akan mereda pada paruh kedua tahun ini. Namun pada praktiknya, skenario tersebut masih penuh ketidakpastian.

Sementara itu, inflasi diperkirakan menyentuh 3,5 persen. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga energi global akibat gangguan pasokan.

Di sisi lain, sebelumnya pemerintah sempat optimistis dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 1,5 hingga 2,5 persen. Namun perkembangan terbaru memaksa penyesuaian cepat.

Chayawadee menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Thailand sebelum krisis cukup kuat. Meski begitu, tekanan saat ini dinilai jauh lebih berat dibanding perkiraan awal.

Sinar Jiwa
Asisten Gubernur BoT, Chayawadee Chai-anant

Ketidakpastian Melebar ke Sektor Eksternal

Dampak perlambatan tidak hanya terlihat pada angka pertumbuhan. Tekanan juga mulai menjalar ke sektor eksternal, termasuk transaksi berjalan.

Sebelumnya, Thailand diperkirakan mencatat surplus sekitar 2 miliar dolar AS. Namun kini proyeksi tersebut direvisi lebih rendah.

Baca Juga :  Di Tengah Duka Keluarga, Mojtaba Khamenei Emban Amanah Pemimpin Iran

Bahkan, tidak menutup kemungkinan neraca transaksi berjalan berbalik menjadi defisit jika kondisi global memburuk.

Dalam sudut pandang ini, ketergantungan Thailand terhadap energi impor menjadi faktor kunci. Hampir separuh kebutuhan energi negara tersebut berasal dari Timur Tengah.

Kondisi ini membuat Thailand lebih rentan dibanding negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Tekanan Energi Picu Efek Berantai

Lonjakan harga minyak dunia yang berada di kisaran US$ 90–100 per barel memperbesar beban impor Thailand. Dampaknya terasa langsung pada biaya produksi dan konsumsi domestik.

Selain itu, gangguan pasokan energi memicu inflasi berbasis pasokan. Dalam kondisi ini, kebijakan suku bunga menjadi kurang efektif.

Gubernur BoT sebelumnya menegaskan bahwa kenaikan suku bunga tidak akan banyak membantu mengatasi inflasi jenis ini.

Di sisi lain, arus keluar modal asing mulai terlihat sejak konflik memanas. Investor menarik dana dari pasar saham dan obligasi Thailand.

Baca Juga :  Luka Tentara AS Melonjak, Drone Iran Jadi Ancaman Nyata

Data menunjukkan penjualan bersih saham mencapai ratusan juta dolar pada Maret. Ini menjadi arus keluar terbesar sejak Oktober 2024.

Dalam perkembangan selanjutnya, tekanan ini juga mengganggu stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan domestik.

Pada titik ini, pembuat kebijakan menghadapi ruang gerak yang terbatas. Utang publik Thailand yang mencapai 66 persen dari PDB semakin mempersempit opsi fiskal.

Situasi ini menempatkan pemerintah pada posisi sulit antara menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan.