Tidur MendengkurMendengkur disertai henti napas bisa menjadi tanda obstructive sleep apnea yang meningkatkan risiko stroke hingga tiga kali lipat.

Mendengkur disertai henti napas saat tidur tidak boleh dianggap sepele. Dokter mengingatkan kondisi yang dikenal sebagai obstructive sleep apnea (OSA) dapat meningkatkan risiko stroke hingga tiga kali lipat dibandingkan orang tanpa gangguan tersebut.

Mendengkur disertai henti napas menjadi salah satu gejala yang perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan obstructive sleep apnea (OSA). Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Rony Marethianto Santoso, SpJP, mengatakan gangguan tidur ini berhubungan dengan peningkatan risiko stroke.

Menurut Rony, tidak semua orang yang mendengkur mengalami OSA. Namun, dengkuran yang terdengar keras, muncul hampir setiap malam, dan disertai jeda napas saat tidur merupakan tanda yang perlu segera diperiksa.

“Snoring itu namanya sleep apnea, obstructive sleep apnea. Risiko stroke pada penderita kondisi ini tiga kali lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak mengalaminya,” kata Rony dalam Media Gathering bersama Primaya Hospital Tangerang di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (15/7).

Ia menjelaskan salah satu ciri yang mudah dikenali ialah napas yang berhenti sesaat ketika tidur, kemudian penderita tampak tersentak untuk kembali bernapas. Selain itu, penderita OSA sering mengalami kantuk berlebihan pada siang hari meski merasa telah tidur cukup pada malam sebelumnya.

Obstructive Sleep Apnea Dapat Memicu Stroke dan Penyakit Jantung

Secara medis, obstructive sleep apnea terjadi ketika saluran napas berulang kali menyempit atau tertutup saat tidur. Akibatnya, pasokan oksigen ke otak dan organ tubuh lainnya berkurang secara berulang sehingga memicu stres pada tubuh setiap malam.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan darah, merusak pembuluh darah, serta memperbesar risiko terbentuknya sumbatan yang berujung pada stroke maupun penyakit jantung. Menurut Rony, gangguan ini lebih sering ditemukan pada orang dengan berat badan berlebih.

Temuan tersebut sejalan dengan sejumlah penelitian. Studi dalam Frontiers in Neurology menunjukkan orang yang mendengkur memiliki risiko stroke 46 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mendengkur. Sementara itu, penelitian di International Journal of Cardiology menemukan kebiasaan mendengkur lebih dari tiga malam dalam sepekan berkaitan dengan peningkatan risiko stroke.

Rony menambahkan risiko akan semakin besar apabila OSA disertai hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, atau riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Karena itu, masyarakat berusia di atas 40 tahun maupun yang memiliki faktor risiko dianjurkan menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala dan segera berkonsultasi ke dokter apabila mendengkur disertai henti napas atau kantuk berlebihan pada siang hari.