Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius resmi dinyatakan berakhir setelah World Health Organization (WHO) memastikan tidak ada tambahan kasus selama lebih dari lima pekan. Seluruh kontak erat telah menyelesaikan pemantauan sesuai prosedur kesehatan.
Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius resmi berakhir setelah World Health Organization (WHO) mengonfirmasi tidak ditemukan kasus baru dalam lebih dari lima pekan terakhir. Kepastian tersebut menandai berakhirnya penanganan wabah yang sebelumnya melibatkan koordinasi sejumlah negara.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan pengumuman itu dalam konferensi pers pada 2 Juli. Menurutnya, kontak terakhir dari pasien yang sempat terpapar telah menyelesaikan masa karantina, memperoleh hasil tes negatif, dan telah kembali ke rumah.
WHO Lanjutkan Studi Hantavirus Meski Wabah MV Hondius Selesai
Secara faktual, WHO mencatat tidak ada penambahan kasus sejak 25 Mei. Karena itu, organisasi tersebut menyatakan situasi wabah di atas kapal pesiar MV Hondius kini telah terkendali sepenuhnya.
Klaster penyakit ini pertama kali dilaporkan pada 2 Mei melalui otoritas kesehatan internasional di Inggris setelah muncul sejumlah kasus penyakit pernapasan akut di kapal tersebut. Selanjutnya, investigasi dilakukan untuk memastikan penyebab penyebaran penyakit.
Dalam penanganannya, WHO mencatat terdapat 13 kasus yang terkonfirmasi, termasuk tiga pasien yang meninggal dunia. Selain itu, lebih dari 650 orang yang sempat melakukan kontak erat telah berhasil ditelusuri dan menjalani pemantauan oleh otoritas kesehatan di berbagai negara.
Penanganan wabah juga melibatkan kerja sama internasional. Argentina, Chile, Belanda, Afrika Selatan, Inggris, dan Spanyol berperan dalam proses koordinasi, evakuasi, hingga pemulangan penumpang dan kru kapal secara aman.
Meski wabah telah dinyatakan selesai, WHO menegaskan upaya penelitian tidak akan berhenti. Organisasi tersebut akan terus bekerja sama dengan berbagai negara untuk mempelajari karakteristik hantavirus serta mengevaluasi penanganan wabah yang telah berlangsung.
Lebih jauh, WHO berencana mengoordinasikan studi lintas negara guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi wabah serupa pada masa mendatang. Fokus kajian meliputi pengembangan metode diagnosis, terapi, hingga penelitian vaksin sebagai bagian dari peningkatan kapasitas respons kesehatan global.
