EkBis

Harga Minyak Dunia Melejit 15,5%, Brent Tembus USD113

harga minyak dunia
harga minyak dunia

Harga minyak dunia melejit 15,5 persen sepanjang Oktober 2026. Brent tembus USD113 per barel pada 31 Oktober 2026 di tengah ketegangan Timur Tengah.

Pasar energi global diguncang lonjakan tajam. Harga minyak mentah acuan Brent Crude menutup perdagangan di level USD113,10 hingga USD117,64 per barel. Angka itu mencerminkan kenaikan bulanan sekitar 13,6 hingga 15,5 persen. West Texas Intermediate (WTI) ikut menguat ke kisaran USD102,95 hingga USD104,12 per barel.

Lonjakan ini terjadi pada akhir Oktober 2026. Pemicunya adalah kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk. Serangan terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi dan ancaman di Selat Hormuz membuat trader waspada. Data dari beberapa platform perdagangan menunjukkan Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak April 2026.

Faktor Pemicu Kenaikan Harga Minyak Dunia

Ketegangan geopolitik menjadi pendorong utama. Serangan yang diklaim kelompok Houthi terhadap kilang dan fasilitas Aramco di Arab Saudi memicu spekulasi. Pasar khawatir volume ekspor minyak dari Timur Tengah bisa terganggu. Selat Hormuz yang dilalui sebagian besar minyak dunia menjadi titik rawan.

Analis energi mencatat aktivitas militer di sekitar kawasan itu menambah premi risiko. Stok minyak di beberapa negara konsumen juga menunjukkan penurunan. Badan Informasi Energi Amerika Serikat melaporkan penarikan stok yang lebih besar dari perkiraan pasar. Kondisi ini memperkuat tekanan harga ke atas.

Menurut catatan perdagangan, Brent naik lebih dari 2 persen hanya dalam satu sesi pada 30 Oktober 2026. Kontrak Desember sempat menyentuh USD118 sebelum ditutup lebih rendah. WTI mengikuti pergerakan yang sama. Kenaikan bulanan WTI bahkan mencapai 15,2 persen.

Dampak terhadap Ekonomi dan Konsumen

Kenaikan harga minyak dunia berimbas langsung ke biaya transportasi dan produksi. Negara pengimpor seperti Indonesia menghadapi tekanan pada harga bahan bakar. Meskipun harga BBM dalam negeri masih dikendalikan, tekanan inflasi dari sisi energi sulit dihindari. Industri manufaktur dan logistik mulai menghitung ulang biaya operasional.

Pakar energi dari BOK Financial, Dennis Kissler, menyatakan, Trader akan tetap fokus pada arus minyak dari Timur Tengah dan kemungkinan eskalasi oleh Amerika Serikat beserta sekutunya. Pernyataan itu mencerminkan sentimen pasar yang masih waspada. Volatilitas diperkirakan berlanjut hingga hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat dan perkembangan diplomasi Iran jelas.

Di sisi lain, beberapa analis melihat ruang bagi koreksi jika negosiasi damai membuahkan hasil. Namun selama risiko pasokan tetap tinggi, harga Brent diperkirakan bertahan di atas USD110. Proyeksi jangka pendek menempatkan level USD120 sebagai target jika eskalasi terjadi.

Pergerakan Harga dalam Sepekan Terakhir

Data historis menunjukkan Brent bergerak dalam rentang yang lebar sepanjang Oktober 2026. Awal bulan harga masih di bawah USD100. Menjelang akhir bulan angka sudah menembus USD113. Kenaikan kumulatif mencapai 15,5 persen jika dihitung dari titik terendah bulan tersebut.

Platform perdagangan mencatat Brent pada 31 Oktober 2026 berada di sekitar USD113,10 hingga USD114. WTI stabil di atas USD100. Selisih antara Brent dan WTI melebar hingga lebih dari USD10. Kondisi ini menunjukkan tekanan lebih besar pada minyak acuan internasional.

Sumber data dari Investing.com dan Reuters mengonfirmasi pola kenaikan yang konsisten. Volume perdagangan kontrak berjangka juga meningkat signifikan. Ini menandakan partisipasi spekulan yang tinggi di pasar energi.

Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak dunia ini menjadi perhatian khusus. Pemerintah terus memantau dampaknya terhadap APBN dan harga jual eceran. Kebijakan subsidi tetap menjadi instrumen utama untuk menahan gejolak di tingkat konsumen. Namun ruang fiskal yang terbatas membuat respons kebijakan harus hati-hati.

Secara keseluruhan, harga minyak dunia yang melejit 15,5 persen dan Brent yang tembus USD113 mencerminkan kerapuhan pasar energi global. Geopolitik Timur Tengah masih menjadi penentu utama. Pasar akan menunggu sinyal diplomasi dan data stok terbaru untuk menentukan arah selanjutnya. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.