EkBis

Kabut Asap Ambon Pukul UMKM Kota Jawa, Pengunjung Menghilang

kabut asap Ambon
kabut asap Ambon

Kabut asap Ambon membuat meja kuliner di Kota Jawa, Wailela, kian sepi pembeli dan pengemudi bandara sulit mencari muatan. "Jangankan berhenti untuk menikmati kuliner, untuk mendapat muatan di bandara saja agak sulit," kata Angky Helaha, pengemudi angkutan bandara.

Selama beberapa hari terakhir, kabut asap menyelimuti Ambon dan ikut mengubah ritme usaha warga. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Kota Jawa, Wailela, merasakan dampaknya lebih dulu. Pengunjung yang biasa singgah untuk menikmati kuliner sambil memandang kota kini berkurang.

Rosna, salah satu pelaku UMKM di kawasan itu, melihat penurunan tersebut pada siang hingga sore hari. Jam-jam itu biasanya menjadi waktu ramai bagi para pedagang. Ia menggambarkan kebiasaan pelanggannya sebelum kabut datang.

"Biasanya kalau siang atau sore hari, ada saja pelanggan yang mampir di sini. Bukan cuma sekadar menikmati kuliner, tetapi mereka juga bisa menikmati pemandangan Kota Ambon yang terlihat begitu indah," ujar Rosna.

Cuaca berkabut asap, menurut dugaan Rosna, menurunkan minat warga untuk datang. Dugaan itu bersumber dari pengamatannya di lapangan, bukan dari catatan omzet resmi.

Sopir Bandara Pattimura Ikut Kehilangan Penumpang

Keluhan serupa datang dari Angky Helaha, pengemudi angkutan yang biasa mengantar penumpang dari Bandara Pattimura ke dalam kota. Sebelum kabut asap datang, sebagian penumpangnya meminta berhenti sejenak di Kota Jawa. Kebiasaan itu mengalirkan pembeli ke warung dan lapak di sana.

"Biasanya ada penumpang yang saya antar minta berhenti sejenak di daerah Kota Jawa untuk menikmati kuliner sekaligus indahnya pemandangan Kota Ambon. Tapi beberapa hari belakangan ini, jangankan berhenti untuk menikmati kuliner, untuk mendapat muatan di bandara saja agak sulit," kata Angky.

Pembatalan sejumlah penerbangan akibat kabut asap memperparah keadaan. Menurut Angky, gangguan itu memengaruhi aktivitasnya sebagai pengemudi angkutan bandara. Satu gangguan cuaca pun menjalar dari landasan pacu hingga ke lapak kuliner di Wailela.

Latar Belakang: Sebaran Asap di Wilayah Maluku

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan asap di Maluku bukan persoalan sehari. Pada 3 Oktober 2026, BMKG mendeteksi 12 titik panas berkepercayaan tinggi. Titik panas adalah lokasi bersuhu tinggi di citra satelit yang berpotensi menjadi kebakaran lahan. Pagi itu, BMKG mengamati asap cukup tebal di Kota Ambon dengan jarak pandang di bawah 5 kilometer.

Empat hari kemudian, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon mencatat sekitar 50 titik panas berkepercayaan sedang. Pantauan satelit Himawari menunjukkan angin membawa asap dari Papua, ditambah sumbangan dari Pulau Buru dan Seram. BMKG memprakirakan asap kategori sedang menyelimuti Kota Ambon dan sejumlah daerah lain pada 7–14 Oktober 2026.

Penurunan jarak pandang menjadi perhatian utama sektor penerbangan. BMKG meminta pengguna jalan, transportasi laut, dan penerbangan mewaspadai kemungkinan jarak pandang turun signifikan. Lembaga itu juga mengimbau warga memakai masker dan menutup jendela saat asap pekat.

Harapan Pelaku Usaha agar Ekonomi Kembali Pulih

Pelaku UMKM dan pengemudi angkutan sama-sama menggantungkan penghasilan pada arus pengunjung dan penumpang. Ketika arus itu tersendat, pendapatan harian ikut tertekan. Kondisi ini menjadi tantangan nyata bagi mereka.

Warga berharap kabut asap segera berakhir. Dengan begitu, penerbangan, kegiatan ekonomi, dan kunjungan ke Kota Jawa, Wailela, bisa kembali normal. Bagi Rosna dan Angky, harapannya sederhana: langit cerah dan pelanggan kembali datang. Redaksi memperbarui informasi ini pada 15 Oktober 2026 dengan merujuk data BMKG.