Wisatawan dan warga bergegas berlindung di toko dan apartemen saat bentrokan pecah di Piazza del Duomo, Milan, Sabtu (17/10). Gelombang demo Italia itu juga melanda Roma, Turin, dan Bologna untuk menentang kenaikan biaya hidup dan lonjakan harga bahan bakar.
Serikat pekerja CGIL memimpin aksi unjuk rasa besar di ibu kota Roma. Mereka menyatakan perlawanan langsung terhadap kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni. Warga di Milan, Turin, dan Bologna turun ke jalan dengan tuntutan serupa. Mereka menolak harga kebutuhan yang terus naik.
Sekretaris Jenderal CGIL, Maurizio Landini, mengumumkan aksi lanjutan pada 20 November mendatang. Tanggal itu bertepatan dengan aksi mogok mahasiswa berskala Eropa yang sudah dijadwalkan. Rencana tersebut menandakan bahwa tekanan terhadap pemerintah belum akan mereda.
Di Turin, para demonstran meneriakkan slogan yang menyasar National Future. Partai berhaluan kanan jauh itu dipimpin mantan jenderal Roberto Vannacci. Seruan tersebut menambah warna politik pada aksi yang berangkat dari keluhan ekonomi.
Bentrokan di Milan dan Bologna Tinggalkan Korban Luka
Suasana berubah tegang di Milan. Demonstran penentang krisis biaya hidup berkumpul di Piazza del Duomo, pusat kota. Sekelompok kecil dari mereka kembali mengenakan penutup wajah. Mereka melemparkan alat pemadam kebakaran, bom asap, dan meja kafe ke arah polisi. Petugas membalas dengan tongkat pemukul dan meriam air.
Laporan awal menyebutkan beberapa orang terluka. Korban termasuk setidaknya seorang perempuan muda dan seorang polisi yang mengalami luka di kepala. Hingga kini, aparat telah menahan 50 orang selama demonstrasi berlangsung.
Di Bologna, sekelompok kecil demonstran muda bertopeng juga bentrok dengan polisi. Mereka melempar batu dan botol. Petugas menjawab dengan tongkat pemukul dan gas air mata.
Albania Bergolak Lima Hari Berturut-turut
Gejolak serupa, bahkan lebih keras, berlangsung di Albania. Situasi di pusat Kota Tirana tidak terkendali selama lima hari berturut-turut. Polisi dan demonstran terus bentrok. Perkelahian jarak dekat, kebakaran di jalan dan bangunan, vandalisme, serta penjarahan menyertai kerusuhan itu. Banyak orang terluka.
Pasukan intervensi khusus RENEA membentuk barikade di sekitar kantor Perdana Menteri Edi Rama. Kehadiran mereka justru memperkeruh suasana yang sudah tegang. Setelah mundur dari sana, demonstran bergerak ke Mahkamah Agung dan melempar bom molotov. Api membakar sejumlah kantor, membahayakan bangunan sekitar, dan menghanguskan sebuah mobil.
Kelompok lain melempar bom api ke arah polisi di jalan raya utama. Mereka juga menyasar bekas hotel bersejarah yang kini menjadi kantor Bank Albania. Batu dan pecahan marmer memecahkan jendela bangunan itu. Tak jauh dari sana, demonstran bertudung menerobos kantor cabang OTP Bank, lalu membakarnya.
Para demonstran menuntut Rama mundur. Mereka juga memprotes kondisi pengajaran di universitas dan biaya pendaftaran mahasiswa. Menteri Kehakiman Toni Gogu mengecam serangan tersebut. Ia menyebut sasaran aksi itu "bukanlah pemerintah", melainkan "dua lembaga independen yang melayani negara dan warganya".
Jurnalis AFP di lokasi melaporkan bahwa polisi untuk pertama kalinya menembakkan peluru karet sejak demonstrasi dimulai. Hukum Albania hanya mengizinkan peluru karet dalam kondisi ekstrem. Mahasiswa bernama Redi Taku menyampaikan kegelisahannya kepada AFP. "Hari ini, untuk pertama kalinya sejak demonstrasi dimulai, polisi menggunakan peluru karet sebagai tindakan ekstrem, padahal mereka tahu ada anak di bawah umur berusia 16 dan 17 tahun di antara para demonstran," katanya.
Belgia dan Prancis Ikut Bergejolak
Ratusan orang, sebagian besar anak muda, turun ke jalan di Brussel pada Sabtu. Sebagian terlibat bentrokan dengan polisi. Gerakan pelajar Belgia memprotes kenaikan biaya pendidikan. Mereka juga menolak reformasi yang dikhawatirkan mempersulit akses ke pendidikan tinggi. Protes di Prancis turut memicu kerusuhan ini.
Banyak pelajar mengenakan penutup wajah dan meneriakkan slogan antifasis. Saksi mata Reuters melihat polisi memakai gas air mata dan meriam air. Para demonstran membalikkan sebuah mobil.
Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin menulis di X bahwa "apa yang sedang terjadi di Brussel bukan lagi sekadar aksi protes". Ia menambahkan bahwa "segala cara yang diperlukan akan digunakan untuk memulihkan ketertiban dalam menghadapi para perusuh".
Prancis sendiri menghadapi demo besar-besaran. Aksi itu awalnya dipicu keluhan pelajar SMA, lalu meluas hingga melibatkan serikat pekerja.
Dampak bagi Warga dan Langkah Berikutnya
Bagi pembaca Indonesia, rangkaian peristiwa ini menggambarkan tekanan biaya hidup dan biaya pendidikan di beberapa negara Eropa pada waktu bersamaan. Pelajar, buruh, dan keluarga menanggung dampak langsung.
Dampak paling nyata terasa pada warga yang terjebak di tengah keributan. Wisatawan dan penghuni apartemen di Milan terpaksa bersembunyi. Seorang perempuan muda dan seorang polisi terluka. Di Tirana, pelajar di bawah umur berada di barisan yang dihadapi peluru karet. CGIL kini menetapkan 20 November sebagai ujian berikutnya.