“Proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkap tiga lembaga konservasi usai menyelamatkan orang utan di Hampangen, Kalimantan Tengah, Sabtu (17/10). Evakuasi orang utan itu menambah daftar panjang penyelamatan dari karhutla, termasuk 51 individu di Kalimantan Barat sejak 6 Agustus.
Peristiwa di Desa Hampangen menjadi potret terbaru upaya menyelamatkan satwa terancam punah dari dampak karhutla. Kisah itu menempatkan satu individu di tengah angka-angka besar yang kerap kita baca.
Evakuasi Orang Utan di Kalimantan Terus Bertambah
Badan konservasi Kalimantan Barat dan organisasi nirlaba YIARI menyampaikan perkembangan terbaru pada Sabtu (17/10). Tim mereka telah mengevakuasi 51 orang utan dari berbagai lokasi di provinsi tersebut sejak 6 Agustus. Setiap angka itu mewakili satu individu yang nyaris kehilangan rumahnya.
Pemerintah memberi gambaran yang lebih besar. Data Kementerian Kehutanan pekan ini mengindikasikan jumlah orang utan yang diselamatkan di Kalimantan bisa mencapai 96 ekor. Angka itu mencakup beberapa bulan terakhir. Namun, AFP menyebut pihak berwenang belum dapat dimintai keterangan lebih lanjut untuk mengonfirmasi jumlah tersebut. Karena itu, angka 96 sebaiknya dibaca sebagai indikasi, bukan hitungan final.
Cakupan wilayah keduanya berbeda: 51 ekor berasal dari Kalimantan Barat, sedangkan 96 ekor merujuk pada Kalimantan secara umum. Rentang waktunya pun belum tentu sama. Pernyataan YIARI dan badan konservasi Kalimantan Barat tetap menjadi data lapangan paling jelas saat ini.
Kehati-hatian di Hampangen Jadi Penentu
Tiga lembaga konservasi bekerja sama dalam penyelamatan di Hampangen, Kalimantan Tengah, pada Sabtu (17/10). Sasaran mereka adalah seekor orang utan jantan berusia 20 tahun. Lembaga-lembaga itu kemudian merinci langkah selanjutnya. “Setelah orang utan dibius, tim medis segera melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum membawa satwa tersebut ke pusat rehabilitasi.”
Urutan itu menunjukkan bahwa menyelamatkan satwa liar menuntut ketelitian, bukan sekadar kecepatan. Pemeriksaan kesehatan di lokasi memberi tim gambaran kondisi satwa sebelum perjalanan menuju pusat rehabilitasi. Pusat itu menjadi tempat satwa dirawat setelah terlepas dari ancaman api. Bagi satwa terancam punah, setiap individu yang selamat berarti bagi populasi yang tersisa.
Kabut Asap Karhutla Kembali Menyelimuti Asia Tenggara
Karhutla yang berlangsung berbulan-bulan memicu polusi udara, penutupan sekolah, dan pembatasan aktivitas luar ruangan. Gangguan pernapasan juga melonjak, baik pada manusia maupun hewan. Dampak itu terasa di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Timor Leste.
Pada Minggu (18/10), tingkat polusi di kawasan itu kembali masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Kabut asap beracun menyelimuti banyak area di Asia Tenggara bagian selatan. IQAir kembali menempatkan Singapura dan Kuala Lumpur dalam daftar lima kota besar berpolusi tertinggi di dunia. Lembaga pemantau kualitas udara itu berbasis di Swiss.
Udara pada kategori itu berisiko bagi kelompok rentan, seperti anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Peringkat tersebut bukan sekadar statistik. Warga di kota-kota itu menanggung langsung kualitas udara yang buruk.
Penyebabnya berlapis. Kebakaran di pulau Kalimantan dan Sumatra terus menghasilkan asap. Fenomena cuaca El Niño yang intens memperparah keadaan. El Niño umumnya membuat musim kemarau di Indonesia lebih kering, sehingga api lebih mudah menyebar.
Dampak bagi Warga dan Satwa
Di banyak rumah, penutupan sekolah dan pembatasan aktivitas luar ruangan mengubah rutinitas harian keluarga. Warga harus menimbang ulang rencana di luar rumah setiap kali kualitas udara memburuk. Manusia dan satwa sama-sama menanggung beban asap.
Orang utan menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni api yang melahap habitat dan asap yang mengganggu pernapasan. Setiap evakuasi menyangkut nyawa satwa sekaligus keselamatan petugas di lapangan.
Evakuasi orang utan dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan krisis yang melampaui kabut asap. Angka 51 dari Kalimantan Barat sudah tegas, sedangkan angka 96 dari pemerintah masih menunggu konfirmasi. Selama api dan El Niño belum mereda, tim konservasi, warga, dan satwa masih harus bertahan. Pembaca yang ingin memantau perkembangan dapat mengikuti pembaruan YIARI, badan konservasi Kalimantan Barat, dan Kementerian Kehutanan.