Daerah

Operasi Modifikasi Cuaca Jakarta, Warga Aceh Dikepung Hujan

operasi modifikasi cuaca Jakarta
operasi modifikasi cuaca Jakarta

“Mudah-mudahan sebelum pelaksanaan Jakarta Running Festival, Jakarta sudah lebih sejuklah,” harap Gubernur DKI Pramono Anung, Rabu (21/10/2026). Pemprov DKI dan BMKG menggelar operasi modifikasi cuaca Jakarta sejak hari itu, sedangkan hujan ekstrem menghantam Aceh dan Sumut.

Dua wajah cuaca Indonesia tampil berbarengan pada akhir Oktober 2026. Di Jakarta, warga merasakan udara panas dan kering yang membuat pemerintah daerah turun tangan. Sementara itu, penduduk Aceh dan Sumatra Utara waspada karena hujan datang terlalu deras.

Operasi Modifikasi Cuaca Jakarta Dimulai di Tengah Udara Kering

Gubernur Pramono Anung menyampaikan rencana operasi di Balai Kota Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026. Menurut RM.id, Pemprov DKI menugaskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menurunkan hujan buatan pada 22–23 Oktober. Targetnya menekan polusi dan menghadirkan cuaca lebih sejuk menjelang Jakarta Running Festival serta konser Ye pada 24–25 Oktober.

Posko operasi berdiri di Pondok Cabe, kata Pramono pada Kamis, 22 Oktober 2026, menurut Disway. Ia mengakui upaya hari pertama belum optimal. Awan yang tersedia belum cukup untuk disemai. Pramono lalu berharap kondisi awan pada Kamis dan Jumat memungkinkan hujan turun paling lambat Sabtu, 24 Oktober.

Awan Belum Cukup, Hujan Buatan Tak Bisa Dipaksa

Persoalan awan menjadi kunci. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan pada akhir Juli bahwa operasi hanya efektif bila awan potensial tersedia. Ia menyebut kualitas udara Jakarta umumnya mulai menurun setelah dua hingga tiga pekan tanpa hujan, menurut NU Online.

Kondisi atmosfer memang tidak berpihak. BMKG memprakirakan sifat hujan Oktober 2026 berada di bawah normal untuk sekitar 89,71 persen wilayah Indonesia. El Nino memperparah kemarau, sehingga Pemprov DKI sejak Agustus menyiapkan hujan buatan satu hingga dua kali sepekan bila awan tersedia.

Langkah ini berbalik arah dari kebiasaan sebelumnya. Pada Januari 2026, BPBD menggelar operasi untuk menekan hujan agar banjir tidak meluas. Pemprov bahkan mengalokasikan Rp31 miliar untuk operasi modifikasi cuaca sepanjang 2026, menurut Metro TV. Pada 30 Juli, Pramono menegaskan arah baru itu: “Kali ini untuk membuat hujan di Jakarta.”

Hingga 27 Oktober 2026, kami belum menemukan rilis resmi tentang total hujan hasil operasi tersebut. Gambaran utuh soal efektivitasnya pada pekan padat acara itu pun belum tersedia.

Aceh dan Sumut Menghadapi Hujan Ekstrem

Kontrasnya tajam di Sumatra bagian utara. Menurut CNBC Indonesia pada 27 Oktober 2026, hujan lebat mengguyur Aceh dan Sumatra Utara selama tiga hari terakhir. Intensitasnya sedang hingga ekstrem. BMKG mencatat curah hujan harian tertinggi 187 milimeter di Pos Hujan Kluet Tengah, Aceh Selatan. Pos Hujan Lobu Rampah, Labuhanbatu Utara, merekam 103 milimeter pada 25 Oktober.

BMKG juga mengidentifikasi potensi terbentuknya sirkulasi siklonik baru di Laut Andaman, sebelah utara Aceh, mulai 27 Oktober 2026. Sebagian besar wilayah Sumatra bagian utara, termasuk Aceh dan Sumut, sudah memasuki musim hujan 2026/2027. Untuk 27–29 Oktober, BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat, termasuk di Sumut dan Jawa Barat.

Peringatan dini sudah lebih dulu bergulir. Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Banda Aceh memperingatkan hujan lebat hingga sangat lebat pada 24–26 Oktober. Wilayahnya mencakup Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Pidie, Nagan Raya, dan sejumlah kabupaten lain, menurut AcehEkspres. Akurat.co melaporkan potensi banjir dan longsor akibat hujan tersebut.

Warga Diminta Berpegang pada Informasi Resmi

Di balik angka-angka itu ada warga yang menunggu kepastian. Penduduk daerah rawan banjir dan longsor di Aceh perlu memantau informasi BMKG setiap hari. Nukilan.id mencatat imbauan agar masyarakat tidak mudah percaya kabar cuaca dari sumber tidak resmi.

Warga Jakarta menghadapi persoalan sebaliknya. Pemprov DKI juga menyiapkan langkah mitigasi lain selama kemarau, mulai dari antisipasi kebakaran hingga gangguan pasokan air bersih, menurut Liputan6. Udara kering dan panas bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan menyangkut kesehatan dan kebutuhan dasar.

Dua peristiwa ini memperlihatkan cuaca Indonesia bergerak ke dua arah sekaligus. Jakarta berupaya mendatangkan hujan lewat operasi modifikasi cuaca, sedangkan Aceh dan Sumut harus bersiap menghadapi hujan yang belum reda. Bagi warga di kedua wilayah, informasi resmi BMKG dan kesiapsiagaan tetap menjadi pegangan utama.