Nasional

Keluarga Letda Jihad Minta Kepastian, CCTV Diserahkan ke Pom

keluarga Letda Jihad
keluarga Letda Jihad

“Kami butuh kepastian dan keterbukaan,” kata perwakilan keluarga pada Senin, 26 Oktober 2026, setelah Letda Inf Jihad Ahmad Al Rasyid dimakamkan di Sorong. Hingga informasi yang tersedia, Kopassus menjadwalkan penyerahan rekaman CCTV kepada Denpom Surakarta pada 27 Oktober, tetapi perkembangan pelaksanaannya belum terkonfirmasi.

Kematian Jihad meninggalkan pertanyaan bagi keluarga yang ingin mengetahui bagaimana insiden di gudang senjata Grup 2 Kopassus itu terjadi. Kepala Penerangan Kopassus Kolonel Indra Mardianto menyebut pistol meledak akibat kelalaian dan ketidaksengajaan. Ia juga membantah kabar di media sosial bahwa Jihad sengaja ditembak rekannya.

Namun, penjelasan tersebut belum menjawab seluruh pertanyaan keluarga. Perwakilan keluarga, Lantoga Sapua, mengatakan pihaknya membutuhkan kronologi yang utuh dan kejelasan mengenai proses hukum. Dalam laporan iNews.id, Lantoga menyampaikan, “Kami butuh kepastian dan keterbukaan.”

Keluarga Letda Jihad menunggu kejelasan hukum

Menurut laporan iNews.id, keluarga sejauh ini menerima informasi awal bahwa terduga pelaku telah ditangani secara internal kesatuan. Mereka belum mendapat penjelasan rinci tentang kronologi maupun status hukum pihak yang diduga terlibat. Karena itu, keluarga meminta Mabes TNI dan Mako Kopassus menjelaskan penanganan perkara secara terbuka.

Permintaan tersebut muncul di tengah informasi yang belum selaras mengenai proses kasus. ANTARA melaporkan Kopassus berencana menyerahkan perkara dan rekaman CCTV kepada Polisi Militer pada 27 Oktober melalui atasan yang berhak menghukum. Informasi itu masih berupa rencana dalam keterangan yang tersedia hingga 26 Oktober.

Sementara itu, Tirto melaporkan seorang perwira berinisial A telah ditetapkan sebagai tersangka dan perkara telah dilimpahkan ke Denpom. Laporan tersebut berbeda dari pemberitaan ANTARA dan iNews.id yang menyebut penyerahan masih direncanakan, serta keluarga belum mendapat kepastian status hukum. Karena itu, status tersangka dan pelimpahan perlu dikonfirmasi melalui keterangan resmi penyidik.

Perbedaan laporan itu membuat kehati-hatian penting dalam menyampaikan perkembangan. Belum ada hasil akhir penyelidikan yang tersedia dalam dossier untuk memastikan bagaimana pistol meletus atau bagaimana luka tembak mengenai Jihad. Informasi mengenai dugaan kelalaian berasal dari klarifikasi Kopassus, bukan kesimpulan akhir penyidikan yang diumumkan kepada publik.

Rekaman CCTV menjadi bagian penting penyelidikan

Indra mengatakan seluruh rangkaian kejadian terekam kamera pengawas di lokasi. Menurut keterangannya kepada ANTARA, rekaman itu akan diserahkan kepada Polisi Militer agar penyidik dapat memperjelas perkara. Kopassus menyebut peristiwa berlangsung di gudang senjata Grup 2 di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Waktu kejadian dalam pemberitaan juga memiliki perbedaan. ANTARA menyebut insiden terjadi sekitar pukul 12.00 WIB pada Sabtu, 24 Oktober 2026. detikNews melaporkan sekitar pukul 11.30 WIB. Dossier tidak memuat penjelasan yang menyelaraskan kedua waktu tersebut.

Indra membantah narasi bahwa Jihad meninggal karena ditembak sesama anggota TNI. Ia mengatakan insiden berkaitan dengan pistol yang meledak dan menyebutnya sebagai kelalaian serta ketidaksengajaan. Namun, ia tidak merinci bagaimana pistol itu meledak atau menjelaskan urutan kejadian secara lengkap.

Karena itu, rekaman CCTV dan pemeriksaan Polisi Militer menjadi bagian yang ditunggu untuk menjelaskan kronologi. Bukti tersebut juga dapat membantu penyidik memeriksa ada atau tidaknya pelanggaran. Sampai hasil penyelidikan diumumkan, keterangan tentang penyebab kejadian tetap perlu dibedakan dari kesimpulan hukum.

Pemakaman berlangsung saat keluarga menanti jawaban

Jenazah Jihad tiba di Sorong pada Minggu, 25 Oktober, lalu dimakamkan secara militer di Taman Makam Bahagia Sorong, Papua Barat Daya. Laporan detikNews menyebut kedatangan jenazah berlangsung setelah insiden di Kartasura. Peristiwa itu membawa dampak langsung bagi keluarga yang kini menunggu penjelasan mengenai kematian anggota mereka.

Di tengah suasana duka, Lantoga meminta proses hukum berjalan dengan jelas. Permintaan keluarga tidak hanya menyangkut kronologi, tetapi juga kepastian mengenai pihak yang berkaitan dengan insiden. Mereka ingin mengetahui bagaimana penyidik menangani perkara dan apakah ada pihak yang bertanggung jawab.

Anggota DPD Hartono, menurut data yang tersedia, hadir melayat dan menyatakan akan mengawal penanganan kasus ke tingkat pusat. Ia juga menyebut telah berkoordinasi dengan Wakil Kepala BIN Letjen TNI Rafael Granada Baay serta berencana membawa persoalan itu ke rapat dewan. Informasi tersebut menunjukkan adanya perhatian dari pihak di luar keluarga, tanpa menggantikan proses penyidikan.

Komando Pasukan Khusus menyatakan rekaman CCTV akan diserahkan kepada Polisi Militer untuk penyelidikan lanjutan. Namun, informasi yang tersedia belum memastikan bahwa penyerahan yang dijadwalkan pada 27 Oktober benar-benar telah berlangsung. Bagi keluarga, kepastian kronologi dan status hukum tetap menjadi hal utama yang mereka tunggu.

Hingga ada keterangan resmi penyidik, penyebab rinci insiden dan status hukum pihak yang diduga terlibat belum dapat dipastikan dari informasi yang tersedia. Penjelasan Kopassus, pemeriksaan rekaman, dan hasil penyelidikan Denpom perlu dibaca sesuai tahap masing-masing. Keluarga Letda Jihad masih menanti jawaban yang terang atas kematian orang terdekat mereka.