Reog Ponorogo Bali menggema di Taman Kertha Gosa, Klungkung, Sabtu (10/10/2026) sore, dan memukau warga hingga wisatawan. Para penarinya perantau asal Ponorogo yang sehari-hari bekerja di Pulau Dewata.
Ratusan warga dan wisatawan mancanegara yang melintas langsung antusias mengabadikan momen langka itu. Kehadiran raja-raja Nusantara membuat suasana di sekitar lokasi makin semarak. Di balik topeng dan tabuhan, ada kisah para perantau yang menjaga identitas daerahnya.
Pentas Reog Ponorogo Bali dalam Pesamuan Agung Wuku Bala
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari Pesamuan Agung Wuku Bala 2026. Perkumpulan Dharmapadesa Pusat Nusantara (PDPN) Klungkung menyelenggarakan rangkaian acara itu pada Sabtu (10/10/2026) sore. Pementasan ini sekaligus memperingati Dwijendra Abiseka ke-XVI Ida Dalem Semaraputra Raja Klungkung XII. Paguyuban Reog Harimau Dewata Bali dan Joyokusumo membawakan atraksi itu langsung di hadapan penonton.
Perantau Ponorogo yang Merawat Budaya dari Denpasar
Para penampil berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, dan sehari-hari bekerja di Pulau Dewata. Di tengah kesibukan mengadu nasib di tanah rantau, semangat melestarikan budaya mendorong mereka mendirikan paguyuban seni. Markas kelompok itu berada di Denpasar. Salah satu penari Bujangganong, Amas Fery (24), menjelaskan hal tersebut kepada detikBali di lokasi pertunjukan.
"Ini Reog Ponorogo asli, semua orangnya dari Ponorogo yang merantau ke Bali. Markasnya ada di Antasura, Denpasar. Kira-kira sudah tiga tahun di Bali," ungkap Amas. Pengakuan itu menunjukkan bahwa para penari membawa tradisi kampung halaman mereka sampai ke Bali.
Dari Silaturahmi hingga Panggilan Hajatan
Selain menjadi wadah silaturahmi perantau, paguyuban ini kerap menerima panggilan tampil untuk berbagai hajatan di Bali. Amas mengaku senang bisa tampil dalam rangkaian acara kebudayaan di Klungkung. Ia menegaskan bahwa kelompoknya siap menerima undangan dari siapa pun.
"Kalau ada acara apa pun bisa, ulang tahun, pernikahan, apa pun itu bisa," tutur Amas.
"Alhamdulillah dapat bersilaturahmi di sini juga. Dari teman-teman mengucapkan terima kasih," ujar Amas sembari tersenyum.
Menjaga Warisan Budaya di Tanah Rantau
Tradisi ini punya cerita panjang. Para penari biasanya mengenakan busana raja, panglima perang, dan kesatria berkuda untuk menuturkan kisah Kerajaan Bantarangin. Ciri paling menonjol adalah Dadak Merak, topeng besar berbentuk kepala harimau dengan burung merak di atasnya.
UNESCO memasukkan Reog Ponorogo ke daftar warisan budaya takbenda yang memerlukan perlindungan mendesak pada 2024. Lembaga itu mencatat pertunjukan kian jarang karena sebagian masyarakat lebih memilih hiburan modern. Generasi muda pun dinilai kurang tertarik mempelajari kesenian tersebut. Catatan itu menjadi pengingat bahwa Reog membutuhkan penerus yang mau belajar dan tampil.
Dalam konteks itu, kiprah perantau di Klungkung terasa berarti. Mereka menjaga tradisi tetap hidup di rantau sambil menjalani pekerjaan harian. Warga dan wisatawan mendapat kesempatan melihat Reog secara langsung, sedangkan para penari mendapat ruang untuk bersyukur dan bersilaturahmi. Bagi mereka, setiap tabuhan menjadi cara menjaga kampung halaman tetap dekat. Cerita seperti ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya sering bertumpu pada warga biasa, bukan hanya lembaga besar.