Daerah

Karhutla Sumsel Picu 17.434 Kasus ISPA, Warga Minta Penanganan Cepat

Kabut Asap
Kabut Asap

Karhutla Sumsel terus menyelimuti permukiman dan mengganggu aktivitas warga, termasuk petani di Musi Rawas. Di Palembang, kabut asap semakin pekat hingga jarak pandang terbatas dan ribuan kasus ISPA tercatat selama September.

Udara yang dipenuhi asap membuat warga Sumatera Selatan harus menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih waspada. Mata terasa perih, tenggorokan kering, dan pernapasan terganggu menjadi keluhan di tengah kebakaran hutan dan lahan yang belum mereda.

Di Kabupaten Musi Rawas, kabut asap mengganggu para petani yang tetap harus bekerja di sawah. Sementara itu, kondisi di Palembang turut memengaruhi pengguna jalan dan jadwal penerbangan. Situasi tersebut memperlihatkan luasnya dampak karhutla terhadap kehidupan masyarakat.

Karhutla Sumsel Ganggu Petani dan Aktivitas Warga

Kecamatan Tugu Mulyo, Kabupaten Musi Rawas, menjadi salah satu wilayah yang mengalami kabut asap cukup tebal. Kondisi tersebut berlangsung selama beberapa hari terakhir dan menghalangi pemandangan bentang alam dari Bukit Barisan.

Sutri, seorang petani yang terdampak, mengaku kabut asap sudah mengganggu warga selama sekitar dua minggu. Ketebalannya meningkat dalam lima hari terakhir sehingga aktivitas pada pagi dan sore hari terasa semakin sulit.

"Kabut asap di Musi Rawa ini sudah sekitar 2 minggu, tebalnya sudah lima hari terakhir. Mata menjadi perih kalau siang, pagi sama sore gelap," kata Sutri.

Keluhan serupa disampaikan Purdianto. Ia merasakan mata pedih, hidung tersumbat, dan tubuh tidak nyaman ketika berada di tengah kabut asap. Kondisi itu bahkan membuatnya ragu untuk berangkat ke sawah.

Bagi petani, gangguan tersebut bukan sekadar persoalan jarak pandang. Mereka tetap menghadapi kebutuhan untuk bekerja, meskipun udara di sekitar lahan pertanian terasa tidak nyaman. Warga berharap hujan segera turun agar kabut asap berangsur menghilang.

Palembang Diselimuti Asap, Kasus ISPA Capai 17.434

Di Palembang, kabut asap juga menimbulkan kekhawatiran. Pada Sabtu sore (10/10), jarak pandang dilaporkan hanya sekitar 20 meter. Bau asap menyengat, sementara mata pedih dan tenggorokan kering mengganggu kenyamanan masyarakat.

Nora, salah seorang warga, mengatakan kondisi tersebut semakin parah setelah berlangsung lebih dari dua bulan. Ia meminta pemerintah mempercepat penanganan kebakaran karena masyarakat menghadapi risiko gangguan kesehatan.

"Terganggu, tapi bagaimana kita kan ingin sehat, terasa di hidung, mata pedih, lebih parah hari ini. Harapan kepada pemerintah harus cepat penanganan jangan lambat karena sudah banyak korban terkena penyakit ISPA," ujarnya.

Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat 17.434 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama September. Data tersebut menunjukkan besarnya beban gangguan pernapasan yang dihadapi masyarakat ketika karhutla terus berlangsung.

Meski demikian, angka tersebut merupakan jumlah kasus yang tercatat selama periode tersebut. Data yang tersedia tidak merinci tingkat keparahan setiap kasus ataupun jumlah warga yang harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Jarak Pandang Pendek Ganggu Perjalanan Udara

Dampak kabut asap tidak berhenti pada aktivitas warga di darat. Pada Jumat (9/10), sedikitnya empat penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang mengalami penundaan.

Jarak pandang yang berada di bawah standar minimum penerbangan, yaitu 400 meter, menjadi kendala operasional. Penerbangan yang tertunda meliputi JT246 rute Palembang–Batam, IU921 rute Palembang–Jakarta, IU302 rute Palembang–Pangkalpinang, serta IU933 dari Yogyakarta menuju Palembang.

Di jalan raya, pengendara juga harus meningkatkan kewaspadaan. Jarak pandang yang terbatas membuat pengguna kendaraan menyalakan lampu dan lebih berhati-hati ketika melintas di tengah asap.

Warga Menanti Hujan dan Penanganan Karhutla

Rangkaian dampak tersebut memperlihatkan bagaimana karhutla memengaruhi kesehatan, pekerjaan, dan mobilitas masyarakat Sumatera Selatan. Petani menghadapi kesulitan ketika bekerja, warga Palembang mengeluhkan kualitas udara, dan penumpang pesawat mengalami penundaan perjalanan.

Warga berharap pemerintah mengambil langkah cepat untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Mereka juga menantikan hujan yang dapat membantu mengurangi kabut asap. Namun, berakhirnya gangguan ini tetap bergantung pada penanganan sumber kebakaran dan perubahan kondisi di lapangan.

Selama kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut, masyarakat perlu memperhatikan kondisi kesehatan dan mengurangi paparan asap sebisa mungkin. Penanganan karhutla yang cepat dan terukur menjadi harapan penting agar aktivitas warga dapat kembali berjalan lebih aman.