sinarjiwa.id – Imlek 2026 di Jakarta berubah menjadi perayaan publik berskala besar yang memusatkan perhatian warga di Bundaran HI pada Jumat, 13/2. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka rangkaian Festival Imlek Jakarta 2026 dengan instalasi cahaya, pertunjukan seni, dan partisipasi lintas komunitas yang berlangsung hingga awal Maret.
Sore itu, ratusan warga memadati kawasan ikonik ibu kota. Lili (52) datang langsung selepas bekerja. Ia menyaksikan paduan suara pelajar dan band membawakan lagu-lagu Mandarin. “Selama saya bekerja di Jakarta, tahun ini mungkin menjadi perayaan Imlek terbesar dan termeriah yang pernah saya lihat,” ujarnya.
Lampu merah dan emas membalut pepohonan di sekitar Bundaran HI. Instalasi kuda raksasa berdiri di tengah air mancur. Barongsai dan tari naga tampil bergantian. Langit Jakarta dihiasi atraksi flying drone LED. Pusat kota berubah drastis. Singkatnya, Imlek Jakarta hadir terbuka bagi publik luas.
Ruang Publik yang Dipenuhi Antusiasme Warga
Warga tidak hanya menonton. Mereka merekam, berfoto, dan menunggu momen pencahayaan instalasi utama. Ira (23) datang sejak sore untuk melihat langsung kuda raksasa menyala merah terang. “Acara semacam ini perlu rutin digelar oleh pemerintah Jakarta agar masyarakat seperti saya bisa tahu lebih banyak bahwa masyarakat di Jakarta ini sangat beragam,” katanya.
Yang jadi sorotan, perayaan ini tidak lagi terpusat di satu titik. Sejumlah halte bus, stasiun kereta, hingga gedung perkantoran di jantung kota ikut dihias ornamen Imlek. Artinya, atmosfer Imlek Jakarta terasa menyebar di ruang keseharian warga.

Berdasarkan data BPS 2010, Jakarta memiliki lebih dari 600.000 penduduk keturunan Tionghoa. Angka itu sekitar 22 persen dari populasi komunitas Tionghoa nasional. Data ini menjadi konteks penting atas skala partisipasi publik dalam perayaan tahun ini.
Simfoni Lintas Komunitas di Tengah Kota
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno hadir membuka acara. Pramono menyoroti penampilan “Simfoni Imlek Jakarta” yang melibatkan komunitas Jawa, Betawi, dan Sunda. “Tadi kita melihat bersama-sama ada musik Simfoni Imlek Jakarta yang dimainkan oleh berbagai komunitas, termasuk tadi yang saya kaget sebagian besar adalah komunitas yang orang-orang Jawa, Betawi, Sunda, mereka pakai hijab, mereka menyanyikan lagu-lagu Mandarin,” ujarnya.
Rangkaian perayaan berlanjut hingga 3 Maret 2026. Agenda mencakup Lomba Dekorasi Imlek yang diikuti sekitar 98 gedung, Festival Pecinan di TMII, Harmoni Jakarta di Blok M Hub, video mapping di Monas, Jakarta Light Festival edisi Chinese New Year di Kota Tua, Festival Kelenteng, hingga Cap Go Meh di Pecinan Glodok.
Pada praktiknya, Imlek 2026 di Jakarta menjadi pengalaman kolektif di ruang terbuka. Warga hadir, menyaksikan, dan merasakan langsung perubahan wajah kota selama perayaan berlangsung.
