sinarjiwa.id — Dunia seolah terhenti saat dentuman serangan “Operasi Epic Fury” yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel mengguncang Iran pada akhir Februari lalu. Di tengah debu peperangan yang menelan banyak jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, sebuah luka baru muncul dalam hubungan internasional. Aliansi NATO yang selama ini dianggap sebagai pelindung bersama, secara mengejutkan menutup pintu bagi permintaan bantuan militer dari Washington.
Kepedihan ini kian terasa saat negara-negara Eropa, satu per satu, menyatakan bahwa mereka tidak ingin terseret dalam api peperangan yang dikobarkan oleh amerika. Spanyol bahkan menjadi penentang paling vokal, menyerukan agar perang yang menghancurkan kemanusiaan ini segera diakhiri. Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima tindakan tambal sulam yang hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat sipil di kedua belah pihak.
Frustrasi Trump dan Keretakan Hubungan Persaudaraan Trans-Atlantik
Presiden Donald Trump tidak dapat menyembunyikan amarahnya melihat penolakan dari negara-negara yang selama ini berada di bawah perlindungan militer Amerika Serikat. Dalam sebuah momen di Oval Office, Trump menyebut sikap para sekutu tersebut sebagai kesalahan yang sangat bodoh dan menyakitkan. Ia merasa dikhianati oleh kawan lama yang enggan berbagi beban saat ketegangan di Selat Hormuz mengancam jalur urat nadi ekonomi dunia.
“Semua sekutu NATO kita sangat mendukung apa yang kita lakukan. Mereka pikir itu sangat penting,” ujar Presiden Donald Trump saat berbicara di Oval Office bersama Taoiseach Irlandia Micheál Martin pada 17 Maret 2026. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain, di mana tak satu pun bendera negara NATO berkibar mendampingi armada amerika untuk membuka kembali jalur pelayaran yang terblokir.
Jeritan Ekonomi dan Nasib Kapal Tanker yang Terperangkap
Dampak dari penolakan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi hajat hidup orang banyak melalui lonjakan harga minyak yang menembus US$119 per barel. Di Indonesia, dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping dilaporkan tertahan di Teluk Persia, tidak dapat bergerak karena terjepit di antara moncong meriam dan ranjau laut. Keengganan sekutu untuk membantu mengamankan selat membuat ketidakpastian ini semakin mencekam bagi ketahanan energi nasional.
“Presiden benar untuk menyerukan negara-negara ini berbuat lebih banyak untuk membantu Amerika Serikat membuka kembali Selat Hormuz,” tegas Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada 18 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa negara-negara tersebut seharusnya membalas budi atas perlindungan yang diberikan militer amerika selama ini dari ancaman Iran.
Perang selalu meninggalkan luka yang dalam, baik fisik maupun hubungan antarmanusia. Ketidakhadiran dukungan NATO di sisi Amerika kali ini menjadi pengingat bahwa dalam badai yang paling besar, terkadang seseorang harus berdiri sendiri. Harapan kini tersampir pada diplomasi yang tulus, agar tak ada lagi darah yang tumpah demi ambisi kekuasaan. ***
