“Kita tidak bisa mengendalikan cuaca atau angin,” kata PM Lawrence Wong saat kabut asap Singapura kembali menyelimuti negaranya. Ia memastikan asap pekat itu berasal dari karhutla di Indonesia dan berjanji menindak perusahaan pemicunya.
Wong menyampaikan pernyataan itu lewat akun Instagram resminya, @lawrencewongst. Ia mengonfirmasi bahwa asap pekat berasal dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia. Musim kemarau panjang memperparah kondisi tersebut.
“Kami telah menawarkan bantuan kepada Indonesia, dan akan terus bekerja sama secara erat dengan mereka serta mitra ASEAN untuk mengatasi masalah ini,” kata Wong.
Ancaman Sanksi bagi Perusahaan Pemicu Karhutla
Otoritas Singapura kini mengusut perusahaan yang diduga memicu kebakaran di lahan konsesi mereka. Pemerintah tidak ragu menggunakan Transboundary Haze Pollution Act (THPA), undang-undang polusi kabut asap lintas batas. Aturan itu mengatur sanksi bagi pihak yang menyebabkan kabut asap.
“Jika terbukti dan diperlukan, kami akan mengambil tindakan berdasarkan Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas Singapura, serta mengeksplorasi tindakan bersama dengan negara-negara lain,” tegas Wong.
Dalam keterangannya, Wong tidak menyebut nama perusahaan yang sedang diselidiki. Frasa bersyarat “jika terbukti” mengisyaratkan penyelidikan masih berjalan. Singapura juga membuka peluang menindak lewat kerja sama dengan negara lain.
Perlindungan Warga di Tengah Udara Tidak Sehat
Di dalam negeri, pemerintah mulai membagikan masker N95 dengan fokus pada kelompok rentan. Lansia, anak-anak, dan penderita penyakit pernapasan menjadi prioritas utama. Pemerintah juga menyiagakan posko berpendingin udara di Community Club serta pusat komunitas warga, seperti Residents' Network dan Residents' Committee.
Bagi lansia dan penderita gangguan napas, udara berkabut bukan sekadar pemandangan kelabu. Paparan asap dapat memperberat keluhan mereka, sehingga posko ber-AC menjadi tempat berlindung yang penting.
Kerja Sama ASEAN dalam Menangani Asap Lintas Batas
Singapura secara resmi menawarkan bantuan teknis dan pemadaman kepada Indonesia. Pemerintahan Wong juga berkoordinasi intensif dengan negara anggota ASEAN.
Bagi pembaca di Indonesia, isu ini bukan hal baru. Asap dari karhutla di Sumatra dan Kalimantan kerap terbawa angin ke negara tetangga saat kemarau. Keterangan Wong belum memuat tanggapan pemerintah Indonesia.
Wong mengakui faktor alam dan kondisi di luar perbatasan berada di luar kendali langsung pemerintahannya. Kendati begitu, ia memastikan keselamatan dan kesehatan warga tetap menjadi prioritas utama.
“Namun, kami akan melakukan segala upaya untuk melindungi warga Singapura, sembari bekerja sama dengan negara tetangga untuk mengatasi penyebab mendasar dari kabut asap ini,” tutup Wong.
Pada akhirnya, kabut asap ini menguji kesabaran warga sekaligus kerja sama antarnegara. Lansia, anak-anak, dan penderita gangguan napas menanggung dampak paling nyata, sementara Singapura terus mengusut perusahaan pemicunya.