Mancanegara

Trump Hina Calon Senator Muslim, El-Sayed Tolak Terpancing

Donald Trump
Donald Trump

“Dia salah untuk Michigan, dan salah untuk Amerika,” tulis Donald Trump di Truth Social. Trump hina calon senator Muslim Abdul El-Sayed pada Rabu (7/10), lalu memicu protes lewat lelucon soal nama “Mohammad” di Georgia.

Unggahan itu muncul di Truth Social, platform media sosial buatan Trump sendiri. Di sana, ia membandingkan El-Sayed dengan calon Republik Mike Rogers. Penilaiannya tegas dan tanpa basa-basi.

“Mohammed El Sayed kandidat yang buruk untuk Demokrat. Sementara lawannya, Mike Rogers, luar biasa bagus,” kata Trump.

Serangan Trump tidak berhenti pada perbandingan elektoral. Ia menuding El-Sayed dengan sebutan yang berat, lalu menyeret nama Hasan Piker ke dalam unggahan tersebut.

“Dia adalah ekstremis radikal, simpatisan teroris, dan tidak berbeda dengan sahabatnya, Hasan Piker yang membenci Amerika,” tulis Trump.

Presiden dari Partai Republik itu kemudian menyebut nilai-nilai El-Sayed tak cocok bagi warga Michigan. Menurut Trump, nilai tersebut juga bertentangan dengan nilai Amerika Serikat. Ia lalu mengajak pemilih mendukung Rogers.

“Dia salah untuk Michigan, dan salah untuk Amerika. Pilih Mike Rogers - Dia mendapat dukungan penuh saya, dan tidak akan pernah mengecewakan Anda!” ujar dia.

El-Sayed Tak Terpancing, Pilih Bicara Medicare

Bagi El-Sayed, makian semacam ini bukan hal baru. Sejak namanya muncul dalam bursa calon senator Michigan, Trump kerap menghinanya. Namun, politikus Demokrat itu memilih tidak ambil pusing.

El-Sayed menilai Trump lebih sibuk menyebut namanya ketimbang membahas program kerjanya. Ia menolak masuk ke arena adu hina dan mengarahkan sorotan ke isu yang menyentuh dapur warga.

“Saya mengundang presiden untuk fokus atas apa yang saya katakan. Saya ingin menyingkirkan uang dari politik, tapi uang di dompet Anda, dan meloloskan Medicare,” kata dia, seperti dikutip CNN.

Medicare adalah program asuransi kesehatan pemerintah AS yang umumnya melayani warga berusia lanjut. Isu ini dekat dengan kehidupan banyak keluarga Amerika, sehingga El-Sayed menjadikannya bagian dari pesan kampanyenya.

El-Sayed memenangi pemilihan internal Demokrat pada Agustus lalu. Kemenangan itu mengantarnya menjadi kandidat partai untuk kursi senator Michigan. Ia bukan wajah baru di panggung politik negara bagian tersebut. Pada 2018, ia pernah mencalonkan diri sebagai gubernur, tetapi kalah.

Lelucon Nama “Mohammad” di Georgia Picu Protes

Sembilan hari setelah unggahan itu, Trump kembali memicu kontroversi. Kali ini ia berbicara dalam pidato kampanye pemilu sela di Dalton, Georgia, pada Jumat (16/10). Sasaran ejekannya adalah kepresidenan Iran.

“Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada seorang pun yang ingin menjadi presiden,” ujarnya.

Dari situ, Trump berpura-pura bertanya kepada beberapa orang bernama Mohammad. Ia menanyakan apakah mereka mau menduduki jabatan tersebut. Penonton yang hadir tidak menanggapi lelucon itu.

“Anda tahu, jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, ucapkan saja ‘Mohammad’,” kata Trump. “Anda mempunyai peluang sekitar 65%. ‘Halo, Mohammad.’ Saya sudah melakukannya selama bertahun-tahun sekarang. Saya tidak pernah salah,” imbuhnya, seperti dilansir Reuters.

Candaan tersebut memicu protes keras, terutama dari aktivis dan kelompok advokasi Muslim. Nama Mohammad dipakai jutaan Muslim di seluruh dunia, sehingga ejekan itu terasa personal bagi banyak orang.

Kritik atas Retorika yang Menyinggung Muslim

Aktivis hak asasi manusia dan kelompok advokasi Muslim berulang kali mengkritik Trump. Mereka menilai retorikanya kerap menyinggung Muslim, imigran, dan etnis minoritas.

Retorika itu kian meningkat selama musim kampanye paruh waktu. Sasarannya terutama warga Somalia dan Muslim AS, termasuk El-Sayed dan Ilhan Omar. Omar adalah politikus Demokrat asal Minnesota yang datang ke AS sebagai pengungsi Somalia.

Laporan tahunan Dewan Hubungan Islam Amerika (CAIR) yang dirilis awal tahun ini menambah konteks. Lembaga itu menyebut meningkatnya Islamofobia di AS sebagian disebabkan tindakan keras Trump terhadap imigrasi.

Bagi pembaca di Indonesia, pemilu sela adalah pemilihan di tengah masa jabatan presiden AS. Pemilih menentukan anggota Kongres dan sebagian kursi Senat, sehingga hasilnya memengaruhi kekuatan politik Trump di Washington. Kursi senator Michigan menjadi bagian dari pertarungan itu.

Dampak bagi Warga dan Kandidat Muslim

Bagi El-Sayed, dampaknya langsung: namanya menjadi sasaran hinaan presiden di tengah kampanye. Bagi warga Muslim dan mereka yang bernama Mohammad, lelucon di Georgia menyentuh identitas sehari-hari, bukan sekadar bahan panggung.

Dua peristiwa dalam sembilan hari ini memperlihatkan pola yang dikritik kelompok advokasi. Trump menyerang secara personal, sedangkan El-Sayed memilih menjawab dengan program kerja. Pemilih Michigan kini menimbang siapa yang akan mereka pilih pada pemilu sela.