“Mereka tunduk pada invasi Islam ekstremis,” ujar Netanyahu dalam wawancara dengan media Prancis iNews24, Selasa (20/10/2026). Netanyahu tuding Prancis gagal mengantisipasi kerusuhan, padahal massa yang turun ke jalan di Paris dan kota besar lain berasal dari beragam kelompok.
Gelombang protes di Prancis bermula dari keresahan para pelajar. Mereka memprotes fasilitas sekolah yang buruk. Aksi itu lalu meluas menjadi protes atas biaya hidup yang kian tinggi. Massa turun ke jalan di berbagai kota besar, termasuk Paris, dan demonstrasi berakhir rusuh di sejumlah daerah.
Di tengah situasi yang masih memanas, suara dari luar negeri ikut masuk. Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sama-sama menanggapi kerusuhan itu. Keduanya mengarahkan sorotan ke isu yang berbeda dari pemicu awal aksi.
Netanyahu Tuding Prancis Menyerah pada Ekstremis
Dalam wawancara dengan media Prancis iNews24 pada Selasa (20/10), Netanyahu menilai para pemimpin Prancis lalai. Menurut dia, Paris tidak bersiap tepat waktu dan akhirnya menyerah.
“Mereka (Prancis) tidak melakukan persiapan tepat waktu dan begitu saja menyerah. Mereka tunduk pada invasi Islam ekstremis,” kata Netanyahu.
Dikutip AFP, Netanyahu lalu menjawab pertanyaan soal saran yang akan ia berikan kepada Prancis. Ia meminta Paris untuk “lawan balik, jangan menerapkan kebijakan akomodasi terhadap mereka”, merujuk pada kelompok ekstremis.
Netanyahu juga mengklaim sudah memperingatkan Presiden Prancis Emmanuel Macron setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Menurut dia, “jika kita tidak memberantas mereka di sini, kalian akan menghadapi mereka di Paris—dan itulah yang sedang terjadi sekarang”.
Klaim Tanpa Bukti di Tengah Massa yang Beragam
Namun, Netanyahu tidak menyertakan bukti apa pun untuk mendukung klaim tersebut. Di jalanan, massa berasal dari beragam kelompok di berbagai kota besar. Ada pelajar yang menuntut sekolah layak, ada pula warga yang mengeluhkan biaya hidup. Bagi mereka, persoalan sehari-hari di ruang kelas dan dapur rumah menjadi alasan utama turun ke jalan.
Pernyataan itu menggemakan retorika politikus dan komentator sayap kanan di negara-negara Barat. Mereka melontarkan klaim tanpa dasar bahwa sejumlah wilayah Eropa, seperti Inggris, telah berada di bawah hukum Islam. Penyebabnya, kata mereka, adalah imigrasi yang marak selama beberapa tahun terakhir.
Klaim semacam itu sarat sentimen Islamofobia yang terus meningkat di Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Tuduhan yang menggeneralisasi seperti ini mudah menyeret kelompok yang tidak terkait kerusuhan ke dalam kecurigaan.
Trump Ikut Kaitkan Protes dengan Imigrasi
Netanyahu bukan satu-satunya tokoh asing yang bersuara. Trump juga memanfaatkan aksi protes di Prancis untuk menyalahkan imigrasi. Ia mendesak negara-negara Eropa dan Macron agar memperketat perbatasan.
Kepada wartawan di Washington pada Senin (19/10), Trump menepis kaitan protes itu dengan persoalan sekolah.
“Apa yang terjadi di Prancis berkaitan dengan imigrasi, bukan sekolah atau hal lainnya,” kata Trump.
Ia menambahkan, “Ini soal imigrasi, dan saya sudah mengatakan kepada Presiden Emmanuel Macron untuk menutup perbatasan kalian.”
Trump menjadikan pemberantasan imigrasi ilegal sebagai salah satu janji utama kampanyenya pada 2024. Dalam sejumlah kesempatan, ia menggunakan klaim keliru yang mengeksploitasi ketakutan terkait ras.
Ketegangan Lama Israel dan Prancis
Sorotan Netanyahu terhadap Prancis muncul di tengah perbedaan sikap kedua negara soal Palestina. Prancis menjadi salah satu negara Eropa yang akhirnya mengakui negara Palestina pada tahun lalu. Keputusan itu memicu kemarahan Israel.
Pola serupa muncul pada Agustus. Saat itu Netanyahu secara sinis menyebut Inggris sebagai “republik Islam”. Pemerintah Inggris mengecam ucapan tersebut dan menyebutnya “sama sekali tidak dapat diterima”.
Warga Menunggu Jawaban di Tengah Adu Pernyataan
Di balik adu pernyataan para pemimpin dunia, tuntutan awal para pelajar dan warga tetap sama. Mereka menginginkan sekolah yang layak dan biaya hidup yang terjangkau. Hingga kini, Netanyahu belum membeberkan bukti atas klaimnya. Keluhan yang memicu aksi pun belum tersentuh dalam pernyataan tersebut. Perbedaan antara tuntutan di jalanan dan narasi di forum politik inilah yang membuat pernyataan Netanyahu menuai sorotan.