Hanya 31 menit yang dibutuhkan Fajar/Fikri untuk mengubah kekecewaan tahun lalu menjadi pesta di Odense. Fajar/Fikri juara Denmark Open 2026 setelah mengalahkan Aaron Chia/Soh Wooi Yik 21-8, 21-11 di SJF Bank Arena, Minggu (18/10).
Pasangan Indonesia itu tampil dominan sejak poin pertama melawan wakil Malaysia. Kemenangan 21-8 dan 21-11 hanya memakan waktu 31 menit, durasi yang terbilang singkat untuk partai puncak.
Denmark Open 2026 berlangsung pada 13–18 Oktober di Odense dan berstatus BWF World Tour Super 750. PBSI menurunkan lima pasangan ganda putra, termasuk Fajar/Fikri, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani, serta Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.
Fajar/Fikri Juara Denmark Open 2026 dalam 31 Menit
Fajar/Fikri langsung memegang kendali dengan unggul 2-1, lalu menjauh 5-1 saat Aaron/Soh mencoba mengejar. Tekanan terus mengalir hingga skor 9-1, dan ganda Malaysia kesulitan menemukan ritme. Interval gim pertama menempatkan Fajar/Fikri di depan 11-3.
Setelah jeda, Aaron/Soh sempat membalas dan memperkecil jarak menjadi 5-12. Namun Fajar/Fikri tetap fokus pada gaya mainnya sendiri dan tidak terpancing mengikuti irama lawan. Dari 16-5, mereka melaju ke 19-8 sebelum menutup gim pertama 21-8.
Selisih 13 poin pada skor akhir gim pertama menunjukkan betapa tajam permainan Fajar/Fikri. Mereka menutup laju lawan sejak awal dan tidak memberi ruang untuk bangkit.
Gim Kedua: Lima Poin Beruntun Membalikkan Keadaan
Aaron/Soh bangkit di awal gim kedua dan memimpin 4-0. Fajar/Fikri sempat tertekan, tetapi mereka menjawabnya dengan lima poin beruntun hingga berbalik unggul 5-4. Momentum itu mengubah arah pertandingan.
Fajar/Fikri menambah keunggulan menjadi 7-4 dan masuk interval dengan skor 11-6. Mereka mendikte permainan dengan percaya diri, sementara Aaron/Soh kehilangan arah. Skor 17-9 membuat gelar terasa makin dekat. Ganda Malaysia sempat menambah dua angka menjadi 11-17, tetapi Fajar/Fikri menutup empat poin tersisa dan mengunci kemenangan 21-11.
Untuk Aaron/Soh, hasil ini menjadi akhir yang pahit di partai puncak. Mereka sempat bangkit di awal gim kedua, tetapi tidak mampu menahan lima poin beruntun dari pasangan Indonesia.
Tebus Luka Final Denmark Open 2025
Gelar ini terasa lebih manis karena Fajar/Fikri pernah merasakan pahitnya final di Odense setahun lalu. Pada Denmark Open 2025, mereka kalah dari Takuro Hoki/Yugo Kobayashi lewat rubber gim 18-21, 21-15, 19-21. Saat itu Fajar/Fikri masih berstatus pasangan baru, menurut catatan Antara. Kini mereka kembali ke final turnamen yang sama dan menutupnya dengan cara yang jauh berbeda.
Perjalanan menuju podium juga tidak mudah. Unggulan ketiga itu menyingkirkan wakil tuan rumah Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen di babak pertama. Berikutnya mereka mengalahkan Christian Kjaer/Rasmus Kjaer 21-19, 21-10 pada Kamis (15/10). Di perempat final, mereka menekuk Peeratchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul 21-17, 21-16 pada Jumat (16/10).
Ketangguhan mental pasangan ini terlihat sepanjang pekan tersebut. Di perempat final, Fajar/Fikri sempat tertinggal 16-17 pada gim pertama, lalu merebut lima poin beruntun dan mengunci gim itu 21-17.
Pada semifinal, Sabtu (17/10), Fajar/Fikri menghadapi jagoan China, Liang Wei Keng/Wang Chang, dan berhasil menembus final. Catatan menunjukkan mereka melewati tiga laga awal tanpa kehilangan satu gim pun.
Fajar menyinggung peran servis Fikri dalam keterangan PBSI, Jumat (16/10). “Tapi kami menemukan momen di akhir ketika servis Fikri 2-3 kali mengecoh lawan,” kata Fajar Alfian.
Dampak bagi Pasangan dan Bulu Tangkis Indonesia
Buat Fajar dan Fikri, trofi ini menjadi bukti bahwa kerja sama mereka terus matang sejak berpasangan pada 2025. Sepanjang tahun lalu, mereka menjuarai China Open 2025, lolos ke final Korea Open 2025, dan mencapai semifinal China Masters 2025. Hasil di Denmark menambah satu gelar penting dalam catatan itu.
Kemenangan ini juga memberi kabar baik bagi PBSI dan pendukung bulu tangkis Tanah Air. Indonesia menurunkan lima pasangan ganda putra di Denmark Open 2026, dan Fajar/Fikri menjadi yang menutup turnamen sebagai juara. Mereka pulang membawa gelar dari turnamen BWF World Tour Super 750 tersebut.
Konsistensi menjadi kunci. Lawan mereka berkarakter berbeda, mulai dari ganda tuan rumah, wakil Thailand, jagoan China, hingga Malaysia. Fajar/Fikri tetap menjaga performa.
Pada akhirnya, kemenangan 21-8, 21-11 itu bukan sekadar skor. Bagi Fajar/Fikri, final tersebut menjadi jawaban atas kekecewaan setahun lalu. Sementara bagi Indonesia, trofi itu mengingatkan bahwa kerja keras bisa berbuah manis.