sinarjiwa.id – Panas yang tersimpan jauh di bawah permukaan laut kini memberi napas panjang bagi badai ekstrem, memunculkan kekhawatiran baru bagi kawasan pesisir dan mendorong ilmuwan mengusulkan klasifikasi badai di atas Kategori 5.
Fenomena titik panas samudera dalam membuat badai tidak lagi mudah melemah. Energi terus mengalir dari lapisan laut yang hangat, menjaga intensitas angin tetap tinggi saat badai bergerak mendekati daratan.
Sinyal bahaya dari riset global
Temuan tersebut dipaparkan dalam simposium tahunan American Geophysical Union 2025 yang digelar di New Orleans. Para peneliti menyoroti meluasnya wilayah panas laut dalam, terutama di Pasifik Barat dekat Filipina dan Atlantik Utara di kawasan Karibia.
“Wilayah titik panas ini telah meluas,” ujar I-I Lin, profesor Departemen Ilmu Atmosfer National Taiwan University, dalam pernyataannya pada 2025. Ia menekankan bahwa perubahan ini berkaitan langsung dengan meningkatnya siklon tropis berintensitas sangat tinggi.
Data yang dipresentasikan menunjukkan lebih dari separuh badai ekstrem tercatat hanya dalam satu dekade terakhir. Fakta ini menandai perubahan pola energi badai yang semakin sulit diprediksi.
Skala lama kehilangan daya jelaskan
Dalam klasifikasi saat ini, badai dengan angin di atas 137 knot digolongkan sebagai Kategori 5. Namun, batas tersebut dinilai tidak lagi mencerminkan kekuatan badai raksasa yang kini muncul lebih sering.
Lin mengusulkan penambahan Kategori 6 untuk siklon dengan kecepatan angin di atas 160 knot. Usulan ini bertujuan memberi peringatan yang lebih jujur kepada publik serta membantu pemerintah menyiapkan mitigasi yang memadai.
Sejumlah badai besar dalam dua dekade terakhir dinilai telah melampaui ambang tersebut, menunjukkan risiko nyata yang dihadapi wilayah pesisir. Penelitian juga menyimpulkan perubahan iklim akibat aktivitas manusia menyumbang sekitar 60–70 persen perluasan panas laut dalam.
Bagi masyarakat pesisir, temuan ini bukan sekadar data ilmiah. Ia adalah alarm dini atas ancaman cuaca ekstrem yang kian dekat dan semakin merusak.***
