Sosok Holland Taylor dan Kegelisahan Publik soal Potensi Infiltrasi Ideologi Asing

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (tengah) diapit C. Holland Taylor dari CSCV (kiri) dan Syekh Abdurrahman al-Khayyat, Ketua Liga Muslim Dunia untuk Asia Tenggara dan Australia (kanan), mengeluarkan Komunike R20 di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta, Jumat, 4 November 2022). – Istimewa

sinarjiwa.id β€” Pencabutan peran Holland Taylor oleh Rais Aam PBNU bukan sekadar keputusan administratif. Ia membuka kembali kegelisahan lama: sejauh mana organisasi keagamaan di Indonesia dapat terpengaruh aktor luar yang membawa agenda dan jaringan berbeda.

Taylor telah lama hadir dalam kehidupan tokoh-tokoh NU. Ia mendampingi Gus Dur dalam pendirian LibForAll Foundation pada 2003, membentuk IIQS pada 2009, dan kemudian memimpin CSCV. Jejaknya menunjukkan keterlibatan mendalam, bukan sekadar hubungan profesional sesaat.

Dokumen Wikileaks yang menyebut perannya dalam kunjungan ulama Indonesia ke Israel pada 2008 menjadi titik yang paling memicu sensitivitas. Akademisi Lien Iffah Naf’atu Fina menilai kunjungan itu sebagai diplomasi pluralisme, namun pelaksanaannya yang diam-diam membuat sebagian masyarakat merasa dikhianati secara emosional.

Di tengah ketegangan itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf memberikan klarifikasi bahwa dirinya tidak terkait dengan Zionis. β€œTidak ada afiliasi apa pun,” ujarnya. (*)

Baca Juga :  Surat Syuriyah PBNU dan Ketegangan Batin Organisasi: Gus Yahya Angkat Suara