sinarjiwa.id – Tragedi banjir bandang yang merenggut ribuan nyawa di Sumatera pada Desember 2025 dinilai menunjukkan kegagalan Indonesia memetik pelajaran dari bencana Siklon Tropis Seroja 2021, kata peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Penilaian itu disampaikan peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Yanu Endar Prasetyo, dalam sebuah webinar kebencanaan beberapa hari lalu. Ia menegaskan, siklon tropis bukan peristiwa langka dalam sejarah iklim Indonesia.
“Siklon tropis ini bukan hal baru. Dari catatan media pada 2021 juga sudah terjadi, tapi kita tidak belajar,” ujar Yanu.
Menurutnya, kegagalan terbesar penanganan bencana adalah ketika negara tidak membangun sistem mitigasi berbasis ilmu pengetahuan. Perdebatan soal kesalahan individu dinilai tidak menyentuh akar masalah.
Yanu membandingkan kebencanaan dengan pandemi Covid-19. Saat itu, sains menjadi rujukan penting kebijakan. Namun, pendekatan serupa belum terlihat konsisten dalam pengelolaan risiko bencana.
“Itu harus diakui, karena buktinya kita gagal memitigasi atau mengantisipasi korban jiwa sebanyak itu,” katanya.
Manusia Jadi Korban Paradigma Pembangunan
Data BNPB mencatat, hingga Minggu (14/12/2025), korban meninggal akibat rangkaian bencana banjir dan longsor di Sumatera mencapai 1.016 jiwa.
Yanu menilai model pembangunan yang menempatkan ekonomi sebagai prioritas utama telah meminggirkan ekologi. Ketimpangan tersebut membuat manusia menjadi pihak paling rentan.
“Idealnya ekonomi dan ekologi seimbang, sehingga manusia tumbuh bersama-sama, tidak menjadi korban,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kuatnya fatalisme di masyarakat dan lemahnya pemanfaatan peringatan dini. Peneliti iklim BRIN, Erma Yulihastin, menegaskan bahwa informasi cuaca ekstrem sebenarnya dapat dideteksi lebih awal. “Peringatan dini menjadi kunci utama,” kata Erma.***
