sinarjiwa.id — Di balik angka-angka triliunan rupiah dalam kontrak pengadaan kendaraan, terdapat sebuah janji loyalitas yang kini tengah diuji. Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) Joao Angelo De Sousa Mota menyatakan kesiapannya untuk membatalkan rencana impor 105.000 unit mobil dari India demi mengikuti kehendak pemerintah dan rakyat Indonesia.
Langkah ini bukan tanpa risiko emosional dan finansial yang besar bagi perusahaan. Agrinas telah menggelontorkan uang muka sebesar 30 persen atau setara Rp7,39 triliun dari total nilai kontrak Rp24,66 triliun. Namun, Joao menegaskan bahwa pengabdiannya kepada negara melampaui kepentingan bisnis semata.
Pengabdian Tanpa Keragu-raguan
Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Selasa (24/2/2026), Joao mengungkapkan bahwa dirinya tidak akan gentar meskipun harus menghadapi gugatan hukum dari supplier internasional. Baginya, mandat dari pemerintah dan DPR RI adalah perintah tertinggi yang harus dijalankan demi kesejahteraan bangsa.
“Saya akan loyal dan saya akan manut apapun keputusan negara, apabila itu memang untuk kepentingan rakyat tanpa sedikitpun saya ragu-ragu. Kalau seandainya saya harus nanti digugat atau nanti dipermasalahkan oleh pihak supplier itulah tanggung jawab saya,” ucap Joao dengan nada penuh penegasan.
Menunggu Kepastian di Pelabuhan
Saat ini, sebagian dari kendaraan produksi Tata Motors dan Mahindra & Mahindra tersebut mulai bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok. Sebanyak 1.000 unit pikap ditargetkan tiba pada akhir Februari 2026. Nasib kendaraan-kendaraan ini kini berada di tangan para pemangku kebijakan.
“Kami manut dan taat kepada pemerintah dan DPR di mana mereka mewakili rakyat, jadi kalau memang disuruh bahwa tidak boleh dipakai, kami tidak akan pakai,” pungkasnya. Sikap ini menunjukkan bahwa bagi Agrinas, kemaslahatan publik tetap menjadi kompas utama dalam setiap langkah korporasi.***
