Sinar Jiwa – Dokter internship meninggal di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menjadi sorotan serius Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang menilai kelelahan akibat tekanan kerja berperan dalam kondisi tersebut. Kasus ini mencuat setelah seorang dokter muda berinisial AMW (26) dilaporkan meninggal dunia dengan komplikasi pneumonia dan suspek campak.
Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Slamet Budiarto, menyampaikan bahwa faktor kelelahan tidak bisa diabaikan dalam kasus ini. Menurutnya, kondisi fisik yang menurun membuat tenaga kesehatan lebih rentan terhadap paparan penyakit menular, termasuk campak.
“Hasil laporan menunjukkan adanya faktor kelelahan yang turut menurunkan daya tahan tubuh. Ini memperbesar risiko terpapar virus,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu (28/3/2026).
Tekanan Kerja Dokter Internship Disorot
Peristiwa ini kembali membuka perhatian terhadap beban kerja dokter internship yang dinilai melampaui batas ideal. Berdasarkan informasi yang diterima IDI, banyak dokter muda menjalani jam kerja lebih dari delapan jam per hari.
Di lapangan, kondisi tersebut tidak selalu diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup. Bahkan, hak cuti yang diberikan disebut kurang dari 12 hari dalam satu periode penugasan.
Tak hanya itu, terdapat laporan bahwa sebagian dokter internship harus mengganti waktu cuti melahirkan. Hal ini menunjukkan adanya tekanan kerja yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga berdampak pada aspek kesejahteraan tenaga medis.
Selain jam kerja, persoalan upah juga menjadi perhatian. IDI mencatat bahwa penghasilan dokter internship masih berada di bawah upah minimum regional (UMR).
“Hak-hak dasar seperti waktu kerja, cuti, dan pengupahan perlu diperbaiki. Ini bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga keselamatan kerja,” kata Slamet.
Kelelahan dan Penurunan Daya Tahan Tubuh
Dalam konteks medis, kelelahan menjadi faktor yang berkaitan langsung dengan menurunnya imunitas tubuh. Kondisi ini dinilai memperbesar peluang tenaga kesehatan terpapar penyakit, terutama di tengah meningkatnya kasus campak.
Risiko Paparan pada Tenaga Kesehatan
Menurut IDI, risiko penularan campak pada tenaga kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah kondisi fisik yang tidak optimal akibat kelelahan.
Di sisi lain, tingkat penularan virus campak yang tinggi juga menjadi faktor penting. Ketika kedua kondisi ini bertemu, risiko infeksi meningkat secara signifikan.
Selain faktor fisik, lingkungan kerja juga turut memengaruhi. Kepadatan pasien, kondisi cuaca, serta penggunaan alat pelindung diri yang tidak maksimal dapat memperbesar potensi paparan.
“Virulensi virus yang meningkat dan kondisi tubuh yang lemah menjadi kombinasi yang berisiko,” ujar Slamet.
Dalam kasus AMW, gejala klinis yang muncul sebelum meninggal meliputi demam, ruam merah, dan sesak napas berat. Kondisi tersebut berkembang menjadi komplikasi pneumonia sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa ini juga tidak berdiri sendiri. IDI mencatat setidaknya tiga dokter internship dilaporkan meninggal selama masa penugasan. Dua kasus lainnya masih dalam tahap observasi untuk memastikan penyebab kematian.
IDI menyatakan akan segera mengirimkan surat kepada Menteri Kesehatan guna mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem internship dokter, termasuk durasi penugasan yang diusulkan menjadi lebih singkat dari satu tahun.
