Kebakaran Kampung Adat SukabumiKebakaran Kampung Adat Sukabumi menghanguskan 51 rumah dan berdampak pada 159 warga. Simak bantuan darurat, kendala pemadaman, serta rencana pembangunan kembali.

Kebakaran Kampung Adat Sukabumi menghanguskan 51 rumah pada Sabtu, 25 Juli 2026. Sebanyak 159 warga terdampak, sementara pemerintah menyiapkan bantuan darurat dan rencana pembangunan kembali permukiman.

Kebakaran Kampung Adat Sukabumi menghanguskan 51 rumah di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Sabtu, 25 Juli 2026. Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 159 jiwa kehilangan tempat tinggal dan untuk sementara mengungsi ke rumah kerabat.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Barat, Ary Heriyanto, menyatakan seluruh rumah yang terbakar rata dengan tanah. Karena itu, warga terdampak belum dapat kembali ke lokasi permukiman.

Selain mengupayakan penanganan darurat, BPBD mendirikan tiga tenda darurat sebagai tempat penampungan sementara. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari respons awal sebelum kebutuhan lain dapat dipenuhi.

Penanganan Darurat dan Rencana Pembangunan Kembali Kampung Adat

Secara faktual, kebakaran mulai terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Api baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 17.00 WIB setelah petugas melakukan pemadaman bersama berbagai unsur terkait.

Namun, proses pemadaman tidak berjalan mudah. Akses menuju kampung adat yang sempit dan berada di kawasan lereng menjadi kendala utama bagi kendaraan pemadam maupun petugas yang bertugas di lapangan.

Sementara itu, BPBD bersama Dinas Sosial menyalurkan bantuan logistik kepada para penyintas. Bantuan tersebut meliputi pakaian anak-anak, kebutuhan dasar, serta berbagai perlengkapan darurat dengan nilai sekitar Rp500 juta.

Tak hanya itu, Dinas Sosial juga membuka dapur umum untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga terdampak. Pada saat yang sama, layanan dukungan psikososial turut diberikan guna membantu warga menghadapi dampak pascakebakaran.

Yang patut dicermati, pemerintah telah menyiapkan rencana membangun kembali seluruh rumah yang hangus terbakar. Langkah tersebut bertujuan agar para penyintas dapat kembali menempati hunian mereka setelah proses penanganan selesai.

Meski begitu, kebutuhan di lokasi bencana masih cukup besar. BPBD menyebut dukungan logistik tambahan, truk tangki air, serta toilet bergerak masih diperlukan untuk menunjang penanganan darurat.

Dalam konteks tersebut, penanganan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan harian warga. Pemerintah juga mengarahkan upaya pemulihan agar proses rehabilitasi permukiman dapat berjalan sesuai rencana setelah kondisi di lokasi dinyatakan aman.