Daerah

Banjir Medan Rendam 9 Kelurahan, 7.930 Warga Terdampak Hujan Dini Hari

banjir Medan
banjir Medan

Banjir Medan melanda sembilan kelurahan di lima kecamatan setelah hujan deras mengguyur Kota Medan dini hari. Sebanyak 2.405 kepala keluarga atau 7.930 jiwa terdampak, namun air telah surut dan warga mulai kembali ke rumah.

Banjir Medan terjadi pada Rabu, 28 Oktober 2026, sekitar pukul 23.00 WIB, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur Kota Medan dan wilayah hulunya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana ini merendam sembilan kelurahan di lima kecamatan, dengan total 2.405 kepala keluarga atau 7.930 jiwa terdampak.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan data tersebut dalam keterangan resmi pada Jumat, 30 Oktober 2026. Ia menyebut banjir telah surut pada Kamis, 29 Oktober 2026, dan warga telah kembali ke rumah masing-masing.

Hujan Deras Picu Sungai Meluap

Hujan deras yang mengguyur Medan sejak Rabu sore hingga malam menjadi pemicu utama banjir. Kondisi diperparah oleh hujan di wilayah pegunungan, termasuk Berastagi, Kabanjahe, dan Deliserdang, sehingga debit air di sejumlah sungai meningkat drastis.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, Yunita Sari, menjelaskan tiga daerah aliran sungai mengalami kenaikan debit air. Ketiganya adalah DAS Deli, DAS Babura, dan DAS Sei Belawan atau Sunggal.

Luapan Sungai Deli menjadi penyebab utama genangan di kawasan permukiman. Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, yang berbatasan langsung dengan sungai tersebut.

Air mulai memasuki permukiman warga sekitar pukul 23.00 WIB. Ketinggian genangan bervariasi dari 20 sentimeter hingga mencapai 150 sentimeter di beberapa titik.

9 Kelurahan Terendam di 5 Kecamatan

Banjir melanda wilayah di Kecamatan Medan Tuntungan, Medan Maimun, Medan Johor, dan Medan Helvetia. Kelurahan yang terdampak antara lain Tanjung Selamat, Sei Mati, Kampung Baru, Hamdan, Aur, Gedung Johor, Kwala Bekala, dan Tanjung Gusta.

Genangan tertinggi dilaporkan terjadi di kawasan Sei Mati dan sekitar Jembatan Sigra-sigra, dengan ketinggian air mencapai 100 hingga 150 sentimeter. Sementara di Gedung Johor dan Kwala Bekala, air menggenangi permukiman setinggi 60 hingga 100 sentimeter.

Dampak paling besar tercatat di Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia. Di kawasan Jalan Kelambir, sebanyak 3.280 jiwa terdampak, sedangkan di Jalan Puskesmas tercatat 2.000 jiwa.

Di Kelurahan Aur sendiri, empat lingkungan terdampak, yakni Lingkungan 4, 3, 2, dan 9. Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Medan, Nata Simagunsong, menyebut Lingkungan 4 menjadi wilayah paling parah dengan sekitar 250 KK terdampak dan lebih dari 100 rumah terendam.

Evakuasi Warga Rentan Dilakukan Cepat

BPBD Kota Medan segera mengerahkan Tim Reaksi Cepat dan dua unit perahu karet untuk membantu evakuasi warga. Petugas mulai disiagakan sejak pukul 02.00 WIB, sedangkan proses evakuasi dilakukan sejak pukul 04.00 WIB berdasarkan permintaan warga.

Sekitar 25 warga dievakuasi dari Kelurahan Aur, terutama anak-anak, ibu menyusui, dan lanjut usia. Secara keseluruhan, 468 warga mengungsi dan 106 orang dievakuasi setelah terjebak di dalam rumah akibat luapan sungai.

Yunita Sari memastikan seluruh warga yang dievakuasi berhasil diselamatkan. Lokasi pengungsian yang digunakan antara lain Kantor Lurah Sei Mati, Masjid Ar Rahman, Masjid Abidin, Masjid Al Husna, Masjid Muttaqin, Masjid Al Hasanah, dan Masjid Ubudiyah.

Wali Kota Medan, Rico Waas, turut menginstruksikan BPBD beserta jajaran kewilayahan untuk bergerak cepat membantu warga terdampak. Bantuan yang diberikan meliputi evakuasi, penyaluran makanan, hingga pembersihan sisa lumpur setelah air surut.

"Sebanyak 2.405 KK atau 7.930 jiwa terdampak," ujar Berton SP Panjaitan dalam keterangan resmi BNPB.

Warga Diminta Tetap Waspada Banjir Susulan

Meski air telah surut, BPBD Kota Medan mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan. Informasi dari BMKG menyebut hujan di wilayah pegunungan masih berlangsung dengan intensitas ringan.

Pemerintah Kota Medan juga telah menginventarisasi lebih dari 200 lokasi pengungsian untuk mengantisipasi banjir yang berpotensi terjadi selama musim hujan. Kesiapsiagaan tersebut diperkuat setelah empat kecamatan di Kota Medan terdampak banjir.

Rico Waas meminta seluruh instansi terkait mempersiapkan perahu, personel, logistik, dan peralatan komunikasi untuk menghadapi potensi banjir berikutnya. Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai juga diminta segera melakukan evakuasi apabila kondisi dinilai membahayakan.

BMKG sebelumnya telah beberapa kali mengeluarkan peringatan cuaca sejak 23 hingga 30 Oktober 2026. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama pada dini hari ketika intensitas hujan dan pasang air berpotensi memicu genangan kembali.

Hingga Kamis, 29 Oktober 2026, kondisi di Kota Medan mulai membaik. Air telah surut di sebagian besar wilayah, warga kembali ke rumah, dan petugas terus melakukan pembersihan sisa lumpur serta pemantauan kawasan rawan banjir.