Kesehatan

DBD Musim Hujan Naik, Kemenkes Ingatkan Warga Lakukan 3M Plus

risiko DBD musim hujan
risiko DBD musim hujan

Kementerian Kesehatan mengingatkan lonjakan risiko DBD musim hujan pada 31 Oktober 2026. Warga diminta rutin melakukan 3M Plus untuk memutus perkembangbiakan nyamuk Aedes.

Jakarta — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan risiko demam berdarah dengue (DBD) jelang puncak musim hujan, Sabtu (31/10/2026). Imbauan ini dikeluarkan karena genangan air yang mudah terbentuk saat hujan dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penular virus dengue.

Dalam Konferensi Pers Dengue Awareness Campaign, Kemenkes menekankan bahwa puncak musim hujan masih berlangsung dan berpotensi mempercepat perkembangbiakan nyamuk dengue di lingkungan permukiman. Karena itu, pemberantasan sarang nyamuk tidak boleh menunggu hingga kasus meningkat di suatu wilayah.

Risiko DBD Musim Hujan Meningkat

DBD merupakan penyakit infeksi akibat virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Nyamuk tersebut berkembang biak pada genangan air bersih, seperti bak mandi, drum, pot bunga, ban bekas, dan wadah penampungan air lainnya.

Kemenkes menjelaskan bahwa musim hujan meningkatkan risiko penularan karena banyak genangan air muncul di sekitar rumah. Kondisi lembap, sampah menumpuk, serta wadah bekas yang tidak dibersihkan memperbesar peluang jentik nyamuk berkembang menjadi nyamuk dewasa.

Data Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes mencatat 161.752 kasus dengue nasional sepanjang 2025, dengan 673 kematian. Sementara itu, hingga Mei 2026, Kemenkes mencatat 39.672 kasus DBD dan 105 kematian di Indonesia. Angka tersebut menegaskan bahwa dengue masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius.

Kenapa warga perlu waspada sejak sekarang? Karena nyamuk Aedes dapat berkembang biak dalam waktu relatif singkat pada wadah kecil berisi air. Satu genangan yang diabaikan dapat menjadi sumber penularan bagi beberapa rumah di lingkungan yang sama.

Langkah 3M Plus dari Rumah

Kemenkes kembali mengingatkan gerakan 3M Plus sebagai fondasi utama pengendalian dengue. Langkah ini menyasar langsung tempat perkembangbiakan nyamuk, bukan hanya mengandalkan pengasapan atau fogging.

  • Menguras: bersihkan dan keringkan bak mandi, drum, penampungan air, serta wadah lain secara rutin.
  • Menutup: tutup rapat tempat penyimpanan air agar nyamuk tidak dapat bertelur.
  • Mendaur ulang: manfaatkan, pilah, atau singkirkan barang bekas seperti kaleng, ban, dan botol yang dapat menampung air hujan.

Unsur Plus mencakup penggunaan obat antinyamuk, pemasangan kelambu, penanaman tanaman pengusir nyamuk, pemeliharaan ikan pemakan jentik, serta larvasidasi sesuai anjuran petugas kesehatan. Fogging tetap dapat dilakukan, tetapi hanya berdasarkan penilaian petugas kesehatan dan kebutuhan pengendalian di lapangan.

Ketua DPR RI Puan Maharani juga menyoroti pentingnya penguatan peran puskesmas dan kader jumantik. Ia menilai pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil di setiap rumah tangga.

“Perubahan iklim dan fenomena cuaca, termasuk kemarau panjang dan pancaroba, dapat menyebabkan berkembang biaknya jentik nyamuk. Upaya pencegahan harus dimaksimalkan, termasuk di lingkungan terkecil di setiap rumah tangga,” kata Puan dalam keterangan persnya, Senin (19/10/2026).

Kenali Gejala dan Segera Periksa

Masyarakat juga perlu mengenali tanda awal DBD agar penanganan tidak terlambat. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi yang tidak kunjung turun, sakit kepala, nyeri otot atau persendian, mual, muntah, ruam kulit, mimisan, serta rasa lemas yang berat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan mengingatkan bahwa demam yang tetap tinggi meskipun pasien telah diberi obat penurun panas perlu segera diperiksa. Pada beberapa kasus, kondisi penderita dapat memburuk setelah masa demam, sehingga pemantauan medis menjadi penting.

“Jika mengalami gejala tersebut, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan cepat,” ujar Erlina dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan, Senin (27/10/2026).

Orang tua perlu lebih waspada terhadap anak-anak karena mereka mungkin belum mampu menjelaskan keluhan secara jelas. Jika anak tampak lesu, tidak mau minum, muntah berulang, atau demamnya tidak turun, segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Pencegahan Perlu Gerakan Bersama

Pencegahan DBD tidak cukup hanya dilakukan satu rumah. Kader jumantik, lurah, pengurus RT/RW, sekolah, dan warga perlu bergerak bersama agar pemeriksaan jentik mencakup seluruh lingkungan permukiman.

Profesor Santi Martini dari Universitas Airlangga mengingatkan bahwa genangan air tetap berisiko meskipun hujan belum turun rutin. Ia menekankan pentingnya pemeriksaan dan pembersihan lingkungan secara berkala tanpa menunggu cuaca berubah.

“Masalahnya ini hujannya belum sering. Sehingga kemungkinan kita harus waspada adanya genangan-genangan air yang bisa menjadi tempat perindukannya nyamuk demam berdarah,” ujar Santi Martini, Kamis (29/10/2026).

Memasuki puncak musim hujan, kewaspadaan terhadap risiko DBD musim hujan harus menjadi kebiasaan harian. Rutin melakukan 3M Plus, mengenali gejala sejak dini, dan segera mencari pertolongan medis merupakan langkah paling efektif untuk melindungi keluarga serta menekan penularan dengue di lingkungan.