Daerah

Duta Antihoaks Jakarta 2026: Winda-Ibrahim Lawan Hoaks

Duta Antihoaks Jakarta 2026
Duta Antihoaks Jakarta 2026

Gubernur Jakarta Pramono Anung mengukuhkan Winda dan Muhammad Ibrahim Gumay sebagai Duta Antihoaks Jakarta 2026 di Balai Kota, Senin (2/11/2026). Dua pelajar SMA ini menyisihkan 356 peserta dan akan memerangi hoaks lewat edukasi sekolah serta kampanye digital selama setahun.

Pengukuhan ini menandai langkah baru Pemprov DKI dalam menjaga ruang digital warga. Pramono menyebut program tersebut yang pertama di Indonesia, menurut detik.com. Ia juga menegaskan bahwa hoaks menjadi tantangan banyak negara, bukan hanya Indonesia. Karena itu, Jakarta memilih jalur yang dekat dengan anak muda, yakni pelajar SMA yang akrab dengan media sosial.

Seleksi Duta Antihoaks Jakarta 2026 Libatkan 356 Pelajar

Pendaftaran dibuka sejak Juli 2026. Sebanyak 356 pelajar dari 119 SMA negeri di Jakarta ikut serta. Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI mengungkap angka itu, seperti dilansir RRI.

Lima puluh pelajar kemudian mengikuti pelatihan internal, menurut detik.com. Pembekalan penyusunan kampanye berlangsung di Ancol, Jakarta Utara. Setelah itu, peserta menjalankan proyek kampanye literasi digital pada 28 Agustus hingga 25 September 2026. Sepuluh finalis lalu mempresentasikan hasilnya di depan dewan juri pada 29 September 2026. Dari presentasi itu, juri menetapkan Winda dari SMAN 68 dan Ibrahim dari SMAN 71 sebagai pemenang.

Para finalis membawa proyek kampanye dengan nama-nama yang segar. Beritasatu mencatat Sapa Hoaks, Check Before Checkout, Aksara, Jakarta Check, dan Stop Laju Hoaks. Nama-nama itu menunjukkan kreativitas pelajar dalam mengemas pesan antihoaks.

Pramono Akui Hoaks Kadang Abu-Abu, Pemerintah Tak Bisa Sendiri

Pramono tak menutup mata pada sulitnya memilah kabar palsu. Ia mengakui, “Kadang-kadang, dalam hoaks itu betul-betul abu-abu.” Pernyataan itu ia sampaikan di Balai Kota, menurut ANTARA.

Pemprov DKI sebenarnya sudah punya layanan Jakarta Lawan Hoaks atau Jalahoaks. Meski begitu, Pramono menilai layanan itu tidak cukup tanpa keterlibatan pelajar. Pemerintah, katanya, ingin melibatkan mereka secara proaktif.

Menurut Pramono, pelajar menjadi mitra yang tepat karena keseharian mereka dekat dengan media sosial dan teknologi. Ia berharap para duta tidak hanya menerima penghargaan. Tujuannya, kata dia, “supaya antihoaks tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar dijalankan,” seperti dikutip Beritasatu. Selain itu, Pramono menekankan keterbukaan informasi dan transparansi pemerintah agar informasi bias tidak muncul, menurut detik.com.

Hoaks Penipuan Atas Nama Pejabat Paling Marak di Jakarta

Kepala Diskominfotik DKI Marulina Dewi memaparkan jenis hoaks yang paling sering muncul. Menurut Kompas.id, penipuan mendominasi, mulai dari undangan palsu, tautan phishing, hingga pesan yang mengatasnamakan pejabat atau orang lain. Marulina menegaskan bahwa modus semacam itu perlu diperangi.

Pemprov DKI tidak menunggu warga menjadi korban. Mereka rutin menggelar edukasi literasi digital bersama lurah, pengurus RT dan RW, hingga kader posyandu. Kompas.id mencatat kegiatan itu bertujuan memperkenalkan program pemerintah sekaligus meningkatkan pemahaman warga.

Di sinilah dua duta pelajar berperan. Marulina menyebut keduanya akan menjadi “partner dari kami” selama setahun. Ia berharap pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda membuat edukasi lebih mudah diterima.

Gerakan Jakarta Lawan Hoaks mendorong tiga kebiasaan baru, menurut ANTARA:

  • Kritis menerima informasi.
  • Cermat memverifikasi kabar.
  • Bertanggung jawab sebelum membagikan.

Satu Tahun ke Depan: Edukasi Sekolah dan Jakarta 500 Tahun

Winda dan Ibrahim tidak berhenti pada upacara pengukuhan. Selama satu tahun ke depan, keduanya menjalankan edukasi interaktif ke sejumlah sekolah. Mereka bekerja bersama Diskominfotik DKI dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), menurut CNN Indonesia.

Program itu mencakup kampanye digital bulanan dan pembentukan agen antihoaks di sekolah. Para duta akan menggandeng komunitas pelajar dan memberikan edukasi berdasarkan isu-isu yang berkembang di Jakarta.

Pramono juga memberi tugas kreatif. Jakarta memasuki usia 500 tahun pada 2027. Karena itu, Pramono ingin anak muda memperkenalkan kota lewat “konten yang kreatif, positif, dan tentunya berdasarkan fakta”, menurut RRI.

Capaian digital Jakarta menjadi modal awal. Pramono mengungkapkan Jakarta meraih skor 56,97 pada Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025, tertinggi secara nasional. Namun, ia menilai skor itu harus dibarengi kemampuan warga mengenali dan menangkal hoaks.

Kabar lain datang dari rencana belajar ke luar negeri. ANTARA melaporkan Pemprov DKI akan memberangkatkan kedua duta ke luar negeri. Menurut Kumparan, Pramono sempat berbisik kepada Marulina menanyakan anggaran untuk mengirim keduanya belajar soal hoaks, dan jawabannya ada.

Pengukuhan dua pelajar ini menunjukkan bahwa perang melawan hoaks tak hanya soal aturan dan layanan klarifikasi. Jakarta memilih jalur yang lebih dekat dengan generasi muda, dan hasilnya baru terukur dalam setahun ke depan. Sementara itu, warga bisa mulai dari hal sederhana, yaitu memeriksa dulu sebelum membagikan. Data diperbarui pada 3 November 2026 berdasarkan pemberitaan ANTARA, CNN Indonesia, Kompas.id, detik.com, RRI, Beritasatu, dan Kumparan.