EkBis

Driver Ojol Punya Utang: 91?rjuang, Banyak Telat Bayar

Driver ojol punya utang hampir merata: 90,96 persen dari 531 pengemudi yang disurvei IDEAS masih menanggung cicilan berjalan. Riset yang dirilis Rabu (30/9/2026) itu juga mencatat 79,71 persen pengutang pernah telat bayar dalam tiga bulan terakhir.

Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) menggarap survei itu bersama Great Edunesia dan Dompet Dhuafa. Tim peneliti menjaring 531 pengemudi di 51 kabupaten/kota pada 23–27 Agustus 2026. Dari jumlah itu, 483 orang mengaku masih memikul utang atau cicilan, menurut laporan IDN Times dan Katadata.

Driver Ojol Punya Utang, Sembilan dari Sepuluh Terdampak

Angka tersebut menggambarkan kondisi yang nyaris merata. Peneliti IDEAS, Muhammad Anwar, menegaskan bahwa utang bukan lagi urusan segelintir pengemudi, menurut Investor.id. Beban mereka pun tidak ringan. Sebanyak 45,96 persen pengutang masih menyisakan kewajiban sedikitnya Rp10 juta. Selain itu, 57,97 persen memegang pinjaman dari lebih dari satu kanal, bahkan ada yang dari tujuh kanal sekaligus.

Utang untuk Bertahan Hidup, Bukan Modal Usaha

Alasan berutang menunjukkan tekanan dapur, bukan ekspansi bisnis. Dari 483 pengutang, 56,31 persen memakai pinjaman untuk kebutuhan harian atau rumah tangga. Kompas mencatat 42,03 persen berutang demi pendidikan anak. Sementara itu, 85,71 persen mengaku pernah berutang dalam tiga bulan terakhir karena penghasilan ojol tidak cukup. IDEAS menilai pola ini lebih dekat dengan strategi bertahan hidup. Pengemudi yang mencicil motor, gawai, dan atribut kerja harus menyisihkan penghasilan lebih dulu sebelum uang sampai ke rumah.

Telat Bayar Cicilan dan Pola Gali Lubang Tutup Lubang

Tekanan itu berujung pada keterlambatan. Sebanyak 79,71 persen pengutang pernah telat membayar dalam tiga bulan terakhir. Hitungan redaksi, angka tersebut setara sekitar 385 orang, atau kira-kira 72 persen dari seluruh responden. Lebih berat lagi, 30,43 persen pengutang telat sedikitnya empat kali. Katadata menyebut angka itu setara 38,2 persen dari kelompok yang pernah menunggak. Perlu dicatat, persentase tersebut dihitung dari pengutang, bukan dari semua pengemudi.

Pola gali lubang tutup lubang pun muncul. Anwar menyoroti hal ini, seperti dikutip Kompas.tv: Yang lebih mengkhawatirkan, 31,88 persen mengaku berutang untuk membayar utang sebelumnya.

Pendapatan Tipis Jadi Akar Persoalan

Akar persoalannya terletak pada penghasilan yang menipis. Riset IDEAS itu mencatat 73,07 persen pengemudi berpenghasilan bersih di bawah Rp100 ribu per hari. Data survei IDEAS 2025, menurut Kompas, memperlihatkan pendapatan kotor harian merosot dari Rp187.628 sebelum pandemi menjadi Rp126.313. Menurut Anwar, sebagian penghasilan yang seharusnya menopang kebutuhan rumah tangga justru terpakai untuk membayar utang. Ia juga menyoroti kemudahan akses pinjaman lewat ekosistem aplikasi, baik dari pengembang maupun pihak ketiga.

Wacana Ojol Jadi UMKM dan Akses KUR Memantik Kekhawatiran

Temuan ini muncul saat pemerintah menyiapkan status UMKM bagi pengemudi ojol. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyampaikan rencana itu pada Rabu (1/7/2026). Ia berkata, menurut IDXChannel: Pengemudi ojol nantinya akan dimasukkan dalam kategori pelaku usaha mikro transportasi daring. Dengan status tersebut, pengemudi berhak mengakses KUR, pelatihan, dan insentif. Pemerintah juga menyiapkan Perpres untuk mengatur status tersebut, menurut Investortrust. GoTo menyatakan siap mendukung rencana itu, menurut Katadata edisi 14 Juli 2026. Pada 22 Oktober 2026, Antara melaporkan Maman menyebut ojol bisa memakai KUR untuk membeli motor dan modal usaha.

IDEAS meminta pemerintah mengkaji ulang kebijakan itu. Lembaga tersebut khawatir tambahan kredit memperberat kewajiban dan memicu gagal bayar massal. Menurut Republika, IDEAS mendesak penguatan pendapatan dan perlindungan pekerja lebih dulu. Mereka juga menilai pendekatan ini dapat mengaburkan relasi kerja antara pengemudi dan perusahaan aplikasi.

Fakta Kunci yang Perlu Dicermati

Berikut angka kunci per 3 November 2026:

  • 90,96 persen dari 531 pengemudi punya utang atau cicilan berjalan.
  • 79,71 persen pengutang pernah telat bayar dalam tiga bulan terakhir.
  • 31,88 persen berutang untuk menutup utang sebelumnya.
  • 73,07 persen berpenghasilan bersih di bawah Rp100 ribu per hari.

Pada akhirnya, angka-angka ini menunjukkan kredit bukan jawaban tunggal. Selama penghasilan bersih pengemudi tipis, cicilan baru mudah berubah jadi beban baru. Pemerintah, perusahaan aplikasi, dan lembaga keuangan perlu membaca data ini sebelum memperluas pembiayaan. Sinar Jiwa akan memperbarui laporan ini jika ada perkembangan resmi, termasuk kepastian Perpres status UMKM ojol.