“Di saat kondisi sumur kami kering-kerontang tidak ada air,” tutur Wati (29), warga Kabupaten Bekasi yang kini bergantung pada bantuan air bersih. Kekeringan Kabupaten Bekasi meluas hingga 373 titik di 55 desa per 11 Oktober 2026.
Musim kemarau panjang sepanjang 2026 membuat sumur warga mengering di sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 373 titik kekeringan hingga 11 Oktober 2026. Titik-titik itu tersebar di 55 desa dan 15 kecamatan.
Krisis air bersih menghantam rumah tangga lebih dulu. Sebanyak 38.022 kepala keluarga, atau sekitar 112.385 jiwa, kini membutuhkan layanan air bersih. Kabupaten Bekasi pun menjadi daerah dengan jumlah warga terdampak cukup besar di Jawa Barat.
Warga Bergantung pada Distribusi Air Bersih
Bagi Wati, bantuan air bersih dari Pemkab Bekasi menyelamatkan kebutuhan sehari-hari di rumah. Ia mengaku sangat terbantu oleh pasokan itu. “Alhamdulillah bantuan ini mencukupi kebutuhan air bersih kami di rumah,” ujarnya.
Pemkab Bekasi melalui BPBD terus mengirim air ke warga terdampak. Hingga 11 Oktober 2026, petugas telah menyalurkan 16.060.275 liter air bersih. Pasokan itu tidak hanya berasal dari pemerintah daerah, tetapi juga dari lembaga sosial, organisasi masyarakat, dan dunia usaha.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, menegaskan komitmen pemerintah daerah. “Distribusi air bersih kita pastikan berjalan setiap hari. Sehingga jangan sampai ada warga tidak mendapatkan akses air bersih,” katanya.
Petugas BPBD Perkuat Koordinasi di Lapangan
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, menyebut pemenuhan air bersih sebagai prioritas. Ia menyoroti warga yang kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari. “Penanganan kekeringan terus kami lakukan melalui distribusi air bersih dan air minum. Kami juga terus memperkuat koordinasi dengan berbagai unsur terkait agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi,” katanya.
Dodi juga menilai dukungan berbagai pihak menentukan efektivitas bantuan. Menurut dia, sarana pendukung perlu tersedia agar air sampai ke masyarakat. “Penanganan di lapangan tidak hanya berfokus pada pengiriman air, tetapi juga membutuhkan dukungan sarana dan koordinasi. Kami berupaya agar distribusi bantuan dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak,” katanya.
Dampak Kemarau bagi Ribuan Keluarga
Dampaknya tidak berhenti di dapur dan sumur warga. Lahan pertanian di Kabupaten Bekasi ikut terdampak. Secara regional, Kabupaten Bekasi menjadi satu dari 15 daerah di Jawa Barat yang mengalami kekeringan.
Selama kemarau belum usai, ribuan keluarga masih menggantungkan kebutuhan harian pada pasokan dari luar. Kecepatan koordinasi antarpihak akan menentukan apakah warga melewati musim ini dengan layak. Untuk Wati dan puluhan ribu keluarga lain, air bersih yang datang tepat waktu berarti segalanya.