Sinar Jiwa – Gempa Maluku 7,6 yang mengguncang wilayah Laut Maluku Utara pada Kamis pagi memicu kepanikan warga di sejumlah daerah, terutama di Ternate dan Manado, dengan banyak orang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Guncangan terjadi sekitar pukul 06.48 waktu setempat dengan kedalaman 35 kilometer. Getaran terasa kuat selama 10 hingga 20 detik di beberapa wilayah. Dalam kondisi tersebut, warga langsung bereaksi spontan dengan meninggalkan bangunan tanpa menunggu instruksi resmi.
Kepanikan Warga Saat Getaran Terasa Kuat
Di lapangan, situasi berlangsung cepat dan tidak terorganisir. Warga di Kota Bitung dan Ternate dilaporkan berlari keluar rumah saat getaran terasa. Barang-barang di dalam rumah jatuh dari rak, sementara listrik sempat padam di beberapa titik.
Seorang warga Manado menyebutkan bahwa kepanikan terjadi seketika. “Orang-orang langsung keluar rumah, semua panik,” ujarnya. Meski tidak semua wilayah mengalami kerusakan besar, respons spontan warga menunjukkan kuatnya dampak psikologis dari gempa tersebut.
Di sisi lain, aktivitas masyarakat sempat terhenti. Beberapa fasilitas umum dikosongkan untuk menghindari risiko runtuhan bangunan. Dalam kondisi seperti ini, refleks utama warga adalah menjauh dari struktur bangunan dan mencari area terbuka.
Evakuasi Mendadak dan Kondisi Lapangan
Selain kepanikan, evakuasi mandiri terjadi di berbagai lokasi. Warga tidak menunggu arahan resmi, melainkan langsung bergerak menjauh dari garis pantai dan bangunan tinggi. Hal ini dipicu oleh informasi awal terkait potensi tsunami.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya gelombang tsunami di lima lokasi, dengan ketinggian tertinggi mencapai 0,75 meter di wilayah Minahasa Utara. Informasi ini memperkuat keputusan warga untuk segera mengungsi.
Kerusakan Bangunan dan Korban Jiwa
Di tengah situasi tersebut, laporan awal menunjukkan adanya kerusakan ringan hingga sedang pada sejumlah rumah dan satu gereja. Selain itu, satu korban jiwa dilaporkan terjadi di wilayah Manado akibat tertimpa reruntuhan bangunan fasilitas olahraga.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa meski durasi gempa relatif singkat, dampaknya tetap signifikan pada struktur bangunan tertentu. Aparat setempat langsung melakukan pengecekan dan pengamanan area terdampak.
Reaksi Cepat Pemerintah
Yang menjadi sorotan adalah bagaimana warga merespons tanpa menunggu instruksi resmi. Informasi mengenai potensi tsunami menyebar cepat dan memicu evakuasi spontan.
Di waktu bersamaan, warga memilih menjauh dari pesisir sebagai langkah antisipasi. Meski sebagian wilayah tidak mengalami dampak besar, reaksi cepat ini menunjukkan tingginya kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman gempa susulan.
Badan penanggulangan bencana mencatat setidaknya 11 gempa susulan terjadi setelah gempa utama, dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 5,5. Situasi ini membuat warga tetap berada di luar rumah untuk sementara waktu.
Di lapangan, suasana masih diliputi kewaspadaan. Aktivitas belum sepenuhnya kembali normal karena masyarakat memilih menunggu kondisi benar-benar aman sebelum kembali ke dalam bangunan.
