sinarjiwa.id – Banjir Purbalingga yang disertai tanah longsor di kawasan lereng Gunung Slamet tidak terjadi secara tiba-tiba. Secara garis besar, bencana ini merupakan hasil pertemuan beberapa faktor alam yang saling memperkuat, mulai dari curah hujan ekstrem, kondisi kelerengan, hingga karakter tanah di wilayah hulu. Kombinasi tersebut menciptakan situasi hidrologis yang sulit dihindari ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi panjang.
Curah Hujan Ekstrem sebagai Pemicu Awal
Mengacu pada situasi terkini, hujan dengan intensitas 100–150 mm per hari tercatat terjadi pada 23–24 Januari 2026 di wilayah lereng Gunung Slamet. Kepala DLHK Jawa Tengah, Widi Hartanto, menjelaskan, angka tersebut jauh melampaui batas ideal curah hujan harian yang umumnya berada di kisaran 50 mm.
Artinya, air hujan yang turun tidak lagi terserap optimal oleh tanah, melainkan langsung meningkatkan debit aliran permukaan.
Kelerengan Curam Mempercepat Limpasan Air
Di sisi lain, kawasan seperti Kecamatan Pulosari dan Moga di Kabupaten Pemalang berada dalam Sub-DAS Penakir, bagian dari hulu Sub-DAS Gintung. Yang jadi sorotan, dominasi kemiringan lereng di wilayah ini mencapai sekitar 64 persen dengan kategori agak curam hingga sangat curam.
Dalam praktiknya, kondisi tersebut mempercepat aliran air sekaligus meningkatkan daya kikis, sehingga tekanan terhadap lereng menjadi jauh lebih besar saat hujan ekstrem terjadi.
Dampak Erosi dan Sedimentasi
Akibatnya, erosi lahan dan longsor di bagian hulu–tengah Sub-DAS Penakir tidak terhindarkan. Efek lanjutannya, peningkatan muatan sedimen mengalir ke bagian hilir dan memicu pendangkalan sungai, yang kemudian memperbesar potensi banjir bandang.
Karakter Tanah Latosol yang Rentan
Yang kerap luput diperhatikan, wilayah ini didominasi tanah latosol coklat. Menurut Widi, sifat tanah yang gembur dan mudah jenuh air membuat stabilitas lereng menurun drastis saat hujan lebat.
Dengan kata lain, banjir bandang muncul akibat limpasan permukaan yang cepat, diperparah suplai sedimen dari tanah yang dangkal dan mudah tererosi.
Faktor Alam yang Saling Menguatkan
Jika dirangkum, banjir Purbalingga merupakan hasil interaksi antara hujan ekstrem, kelerengan curam, dan karakter tanah yang rapuh. Kesimpulannya sederhana, ketika seluruh faktor alam tersebut hadir bersamaan, risiko longsor dan banjir meningkat secara signifikan, bahkan tanpa pemicu tambahan dari aktivitas manusia.
