sinarjiwa.id – Kasus SMA 2 Kudus keracunan MBG menjadi alarm serius bagi publik ketika program yang dirancang untuk memperkuat gizi pelajar justru berujung pada perawatan massal. Dalam hitungan jam, ratusan siswa dan guru mengalami gejala serupa, sementara puluhan lainnya harus dirujuk ke rumah sakit. Intinya, distribusi Makan Bergizi Gratis di sekolah ini berubah menjadi peristiwa luar biasa yang menyita perhatian banyak pihak.
Gejala mulai dirasakan sejak Rabu (28/1/2026) malam. Namun pada kenyataannya, dampak paling nyata baru terlihat keesokan paginya, Kamis (29/1/2026), saat banyak siswa datang ke sekolah dalam kondisi tidak sehat.
Dari Program Gizi ke Krisis Kesehatan Sekolah
Pada praktiknya, MBG yang diterima SMA Negeri 2 Kudus dikonsumsi oleh siswa dan guru pada Rabu siang. Menu yang disajikan berupa nasi, soto ayam suwir, tempe, dan tauge. Tak sedikit yang menilai, rasa makanan saat itu sudah tidak normal.
Sekretaris Tim Satgas Percepatan MBG Jawa Tengah, Hanung Triyono, menyebut laporan awal masuk pada Kamis pagi. βJumlah yang terkena dampak dari (dugaan keracunan) MBG 91 orang,β ujarnya. Dugaan awal mengarah pada ayam suwir yang βagak berbauβ, meski penyebab pastinya masih menunggu hasil uji laboratorium.
Efek Berantai yang Dirasakan Siswa dan Guru
Yang kerap luput diperhatikan, keluhan awal justru lebih dahulu dirasakan guru. Diare dan sakit perut muncul sejak malam hari. Baru pada pagi hari terlihat bahwa siswa mengalami kondisi serupa secara masif.
Lonjakan Pasien dan Penanganan Darurat
Di lapangan, situasi berkembang cepat. Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mencatat jumlah pasien yang dirawat mencapai 118 orang, tersebar di tujuh rumah sakit. Sebagian besar mengalami mual, muntah, pusing, dan diare. Ambulans dikerahkan, UKS kewalahan, dan sekolah berubah menjadi titik evakuasi darurat.
Distribusi Dihentikan, Tanggung Jawab Ditegaskan
Bersamaan dengan itu, operasional SPPG Purwosari dihentikan sementara. Tim sanitasi mengambil sampel makanan dan bahan baku untuk pemeriksaan laboratorium. Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, menyatakan siap bertanggung jawab penuh dan meminta masyarakat bersabar menunggu hasil uji.
Bupati Kudus Samβani Intakoris menegaskan seluruh biaya perawatan ditanggung penuh melalui skema UHC. βIni kejadian luar biasa,β katanya.
Pada akhirnya, peristiwa ini memperlihatkan bagaimana sebuah program nasional bisa berubah menjadi krisis kesehatan ketika pengawasan di lapangan goyah.
