sinarjiwa.id — Thoriqoh Shiddiqiyyah di Jombang kembali menghidupkan silsilah kuno Abu Bakar Ash-Shiddiq sejak 1959 demi memenuhi dahaga spiritual umat yang merindukan ketenangan batin asli di tengah gempuran zaman modern. Kehadiran tarekat ini seolah menjadi oase bagi jiwa-jiwa yang mencari akar sejarah Islam yang sempat tersembunyi selama berabad-abad dalam lipatan waktu.
Berdasarkan catatan penuh makna dalam Kitab Barzanji halaman 59, nama “Thoriqoh Shiddiqiyyah” bukanlah sebuah inovasi baru, melainkan metode zikir suci yang ditransmisikan langsung oleh Rasulullah saw. kepada sahabat Abu Bakar. Meski sempat “tenggelam” karena tradisi penghormatan murid yang menyematkan nama baru bagi tarekat mereka, esensi Shiddiqiyyah tidak pernah benar-benar hilang dari sanubari para pencari Tuhan.
Mandat Suci dan Perjalanan Sunyi Sang Mursyid
Kebangkitan nama asli ini bermula dari sebuah mandat spiritual yang menyentuh hati pada tahun 1959. Kiai Muchtar Mukti menerima amanat berat dari gurunya, Syekh Ahmad Syu’aib Jamali, untuk memunculkan kembali identitas Shiddiqiyyah. Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi kemudian mengabdikan hidupnya untuk menghidupkan kembali warisan yang telah memfosil ratusan tahun ini bagi umat manusia.
Perjalanan spiritual ini menuntut ketulusan yang luar biasa dari setiap pengikutnya. Sebelum melangkah lebih jauh, calon murid harus mengikat janji dalam “8 Kesanggupan” yang menyentuh ranah kemanusiaan dan kebangsaan. Hal ini mencakup bakti kepada orang tua dan cinta tanah air, membuktikan bahwa hubungan dengan Sang Pencipta tidak bisa dipisahkan dari kasih sayang kepada sesama mahluk dan negara.
Menjaga Kemurnian Ilmu Melalui Silsilah yang Sambung
Dalam sebuah pertemuan hangat di Jombang pada Februari 2026, Wakil Ketua YPS Pusat, Al-Halats Muhidin, mengungkapkan betapa pentingnya menjaga keaslian ajaran ini.
“Silsilah kami adalah sebuah rantai emas yang muttasil atau bersambung tanpa putus. Ini bukan sekadar organisasi, tapi penjagaan terhadap kemurnian transmisi ilmu batin yang mengalir dari masa ke masa,” tutur Muhidin dengan nada penuh haru.
Kini, dari pusatnya di Losari, Jombang, getaran spiritual ini telah menjangkau lima juta jiwa di seluruh Indonesia hingga mancanegara. Keberhasilan Shiddiqiyyah dalam menyentuh hati jutaan orang membuktikan bahwa ajaran kuno yang dibalut dengan cinta dan disiplin tetap mampu memberikan arah bagi manusia modern yang seringkali kehilangan pegangan di tengah arus dunia yang bising. *
