Sinar Jiwa – Persoalan royalti musik dangdut kini menyentuh sisi paling mendasar kehidupan musisi setelah Ikke Nurjanah mengungkap kondisi nyata yang dihadapi para pelaku di lapangan. Ia menyoroti bagaimana nilai royalti yang minim berdampak langsung pada keberlangsungan hidup para musisi, terutama menjelang momen penting seperti Lebaran.
Selama satu tahun empat bulan, total royalti yang diterima oleh anggota LMK ARDI hanya sekitar Rp 25 juta. Jumlah tersebut harus dibagi ke sekitar 300 penyanyi dan musisi, membuat nilai yang diterima masing-masing menjadi sangat kecil.
Yang jadi sorotan, kondisi ini tidak hanya berbicara soal angka, tetapi tentang ketergantungan ekonomi para musisi terhadap royalti tersebut.
Royalti Jadi Harapan Musiman
Dalam realitas di lapangan, royalti musik dangdut kerap menjadi penopang tambahan bagi kebutuhan musisi, terutama saat hari besar. Momentum Lebaran selama ini dianggap sebagai periode penting untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Ikke mengungkap bahwa banyak musisi yang berharap royalti bisa membantu mereka menjalani tradisi tahunan, seperti mudik atau sekadar memenuhi kebutuhan rumah tangga.
βGimana saya Lebaran nih? Saya berharap bisa pulang kampung,β ujar Ikke, mengutip keluhan musisi yang ia terima.
Pada sisi ini, royalti bukan lagi sekadar hak ekonomi, melainkan bagian dari siklus kehidupan para pelaku seni.
Ketergantungan pada Penghasilan Tambahan
Yang kerap luput diperhatikan, banyak musisi dangdut tidak memiliki sumber pendapatan tetap. Mereka mengandalkan panggung, yang tidak selalu stabil, dan royalti menjadi pelengkap penting.
Dengan nilai distribusi yang rendah, keseimbangan ekonomi tersebut terganggu. Dampaknya terasa langsung pada kemampuan mereka memenuhi kebutuhan dasar.
Makna Royalti bagi Musisi Senior
Di sisi lain, bagi musisi senior, royalti memiliki arti yang berbeda. Bukan sekadar uang, tetapi simbol penghargaan atas perjalanan panjang dalam industri musik.
Ikke menyebut bahwa sebelumnya, royalti bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi para senior. Mereka merasa memiliki βpensiunβ dari profesi yang telah dijalani puluhan tahun.
βAda kebanggaan juga, ngerasa punya pensiun yang bisa dibanggakan,β ungkapnya.
Namun pada kenyataannya, kondisi saat ini membuat nilai tersebut seakan hilang. Tidak ada lagi rasa aman yang dulu melekat pada sistem royalti.
Rasa Tidak Dihargai dalam Sistem
Lebih jauh, Ikke juga menyinggung bagaimana keputusan sepihak dalam penentuan royalti memunculkan rasa tidak dihargai. Ia menilai proses tersebut tidak melibatkan para pelaku secara adil.
Dalam konteks ini, angka Rp 25 juta yang dibagi ke ratusan anggota dipandang tidak sebanding dengan kontribusi para musisi terhadap industri musik dangdut.
βMasa kita harus nunggu data kamu lalu meninggalkan yang lain?,β kata Ikke.
Pada titik ini, yang dipertanyakan bukan hanya metode, tetapi posisi musisi dalam sistem itu sendiri. Apakah mereka benar-benar dianggap sebagai pemilik hak, atau hanya objek distribusi semata.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan royalti musik dangdut tidak berhenti pada mekanisme perhitungan. Di balik itu, ada dimensi kesejahteraan dan pengakuan profesi yang kini ikut dipertaruhkan.
