Ragam

Ritual Agung Jagat Nata Ajak Warga Rawat Alam Lewat Tindakan

Ritual Agung Jagat Nata
Ritual Agung Jagat Nata

Senja menyelimuti Pantai Pelangi, Parangtritis, Bantul, Senin (19/10/2026), saat Ritual Agung Jagat Nata digelar penuh kekhidmatan. Srawung Paseduluran Anggoro Kasih mengajak sesepuh dan komunitas budaya menata hubungan dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.

Kegiatan di Kapanewon Kretek, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini mengusung tema “Laku Spiritual untuk Keselarasan Jagat dan Tatanan Kehidupan”. Panitia menyiapkannya sebagai ruang refleksi bagi siapa pun yang ingin menata batin. Mereka berharap peserta pulang dengan kesadaran baru tentang hubungan manusia dengan sekitarnya.

K. Handiwiratirta, Ketua Umum Taman Sesaji Nusantara, memimpin jalannya ritual. Sejumlah sesepuh dan tokoh budaya Yogyakarta hadir mendampingi, antara lain Romo Gde Mahesa, Bunda Yani Saptohudoyo, dan KRAT Sabdo S. Narendro. Taman Sesaji Nusantara dan Padepokan Bantala Linuwih juga ikut mengambil bagian.

Penyelenggara menjalankan acara secara swadaya dan kolektif. Konsep serta inisiatifnya lahir dari Srawung Paseduluran Anggoro Kasih. Semangat gotong royong itu terasa dari cara para komunitas menyiapkan kegiatan bersama.

Makna Ritual Agung Jagat Nata bagi Peserta

Romo Gde Mahesa menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Menurut dia, ritual tersebut menjadi laku spiritual untuk membangun kembali kesadaran manusia. Hubungan dengan lingkungan sosial, leluhur, dan alam semesta perlu dijaga supaya hidup tetap seimbang.

“Ritual Agung Jagat Nata adalah laku menata kembali hubungan manusia dengan dirinya, sesama, tatanan sosial, akar leluhur, alam raya, dan Sang Pencipta,” ujarnya.

Dalam prosesnya, peserta diajak mengenali persoalan yang muncul akibat perilaku manusia. Persoalan itu menyangkut cara kita memperlakukan sesama dan lingkungan. Refleksi tersebut menjadi pintu untuk memperbaiki sikap.

Panitia berharap kesadaran spiritual tidak berhenti di lokasi ritual. Peserta didorong menjernihkan pikiran, meluruskan niat, dan memikul tanggung jawab bagi keberlangsungan hidup. Keselarasan jagat, dalam pandangan mereka, menjadi tugas bersama yang menuntut kesadaran pribadi sekaligus tindakan nyata.

Seruan Merawat Alam dari Pesisir Selatan

Pesan paling tegas datang dari K. Handiwiratirta. Ia menilai penghormatan kepada alam semesta harus tampak dalam perilaku sehari-hari. Nilai spiritual, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan kepedulian sosial dan upaya menjaga lingkungan.

“Jagat raya tidak cukup dirawat hanya dengan sakralitas ritual saja, tetapi juga harus dijaga melalui tindakan. Alam tidak cukup dihormati melalui sesaji, tetapi harus dilindungi melalui perilaku. Kehidupan tidak cukup ditata melalui mantra, tetapi harus diwujudkan melalui tanggung jawab,” ucapnya.

Pernyataan itu terasa relevan di pesisir yang setiap hari bersentuhan dengan laut. Bagi banyak orang, sesaji dan doa menjadi bentuk hormat kepada alam. Namun pesan sore itu mengingatkan bahwa rasa hormat membutuhkan bukti nyata.

Dengan kata lain, setiap peserta ditantang membawa pulang pesan tersebut ke rumah dan lingkungannya. Doa yang dipanjatkan di tepi pantai harus berlanjut menjadi kebiasaan yang nyata.

Merawat Akar Budaya Lewat Pertemuan Sesepuh dan Komunitas

Nilai yang diangkat juga menyentuh pelestarian akar budaya. Kehadiran sesepuh dan komunitas budaya spiritual menciptakan ruang pertemuan lintas generasi. Mereka merawat tradisi sambil menimbang relevansinya bagi kehidupan masa kini.

Dalam konteks itu, laku spiritual dipahami sebagai jalan mengenali jati diri. Manusia yang mengenal jati dirinya cenderung menghargai warisan budaya. Ia pun lebih mudah menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat dan lingkungan.

Dampak bagi Peserta dan Masyarakat

Srawung Paseduluran Anggoro Kasih mengajak masyarakat menjadikan kesadaran spiritual sebagai landasan bertindak. Pesan yang mereka bawa menekankan bahwa keseimbangan hidup tidak lahir dari doa dan ritual semata. Kepedulian kepada sesama, pelestarian budaya, dan perlindungan alam harus menyertainya.

Pada akhirnya, kegiatan di Pantai Pelangi menjadi momentum refleksi bagi para peserta. Mereka diingatkan untuk menyelaraskan batin dengan tindakan nyata. Dengan begitu, keberlangsungan jagat raya dan tatanan hidup bersama menjadi tanggung jawab yang dipikul bersama.