EkBis

Saham HSC Keluar dari IHSG, Investor Ritel Cermati Dampaknya

saham HSC keluar dari IHSG
saham HSC keluar dari IHSG

Layar IHSG di Gedung BEI Jakarta jadi pusat perhatian investor pada Senin (19/10/2026). Direktur Utama Jeffrey Hendrik menegaskan saham HSC keluar dari IHSG mulai 2 November 2026 agar indeks lebih wajar.

Pengumuman BEI Nomor Peng-00201/BEI.POP/10-2026 yang terbit Rabu (21/10/2026) menjadi landasan perubahan ini. Bursa merujuk pada penerapan free float, yaitu porsi saham yang benar-benar beredar di tangan publik, dalam penghitungan indeks. Selain itu, BEI mempertimbangkan kebutuhan indeks yang lebih mewakili dinamika pasar.

Saham HSC Keluar dari IHSG, Apa yang Berubah?

High Shareholding Concentration (HSC) adalah kategori saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada segelintir pemegang. Sebelumnya, seluruh saham tercatat bisa masuk evaluasi IHSG, kecuali saham di Papan Akselerasi. Kini saham HSC ikut dikecualikan dari kriteria seleksi indeks.

Jeffrey Hendrik menepis anggapan bahwa saham-saham itu akan terhapus dari bursa. “Bukan delisting, tetapi tidak diperhitungkan di dalam perhitungan IHSG,” ujarnya di Jakarta Selatan, Senin (19/10/2026). Dengan begitu, investor tetap bisa membeli dan menjual saham HSC seperti biasa. Namun, naik turun harganya tidak lagi menggerakkan IHSG.

Metode hitung IHSG tidak berubah. BEI tetap memakai Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted dengan batas bobot maksimum 9 persen. Sederhananya, nilai pasar dihitung dari saham yang beredar di publik, lalu bobot satu emiten dibatasi supaya tidak mendominasi.

Jadwal Evaluasi Bergeser, Ada Mekanisme Insidental

Periode evaluasi IHSG juga berubah. Dulu evaluasi berlangsung pada Maret, Juni, September, dan Desember. Kini jadwalnya jatuh pada Januari, April, Juli, dan Oktober.

Hari efektif penyesuaian ikut bergeser. Skema lama menetapkan hari bursa pertama Januari, April, Juli, dan Oktober. Aturan baru memilih hari bursa pertama Februari, Mei, Agustus, dan November. Penyesuaian perdana dengan skema itu efektif pada 2 November 2026, hari bursa pertama bulan tersebut.

BEI turut menambahkan mekanisme evaluasi insidental. Saham yang masuk atau keluar dari kategori HSC di luar periode evaluasi akan segera disesuaikan dalam IHSG. Jeffrey menambahkan, saham yang lepas dari status HSC kembali menjadi konstituen indeks.

Bobot 18 Persen dan Alasan di Balik Keputusan

Data BEI mencatat 80 saham masuk kategori HSC hingga 13 Oktober 2026. Jeffrey menyebut bobot kelompok ini mencapai sekitar 18 persen terhadap IHSG. Katadata melaporkan DSSA dan BREN termasuk saham HSC yang sebelumnya berbobot cukup besar.

Keputusan itu keluar setelah BEI bertemu MSCI, penyedia indeks global, secara daring pada Senin (19/10/2026) sore, menurut Bisnis.com. Tujuannya, kata Jeffrey, memberi gambaran IHSG yang lebih wajar karena saham berkonsentrasi tinggi menyimpan potensi risiko. “Untuk memberikan gambaran yang lebih wajar dari IHSG, kami akan mengeluarkan seluruh saham dalam HSC dari IHSG,” ujarnya.

Hanya Hong Kong dan Indonesia yang punya kategori HSC, menurut Jeffrey. Di Hong Kong, saham HSC juga sudah dikeluarkan dari indeks. BEI berharap langkah serupa memberi hasil yang sama pada IHSG. Bursa juga akan menambahkan keterangan afiliasi pada publikasi pemegang saham berkepemilikan 1 persen atau lebih.

Dampak bagi Investor Ritel dan Emiten

Investor ritel patut mencermati perubahan ini. Pergerakan IHSG, yang selama ini jadi rujukan harian, akan lebih mencerminkan saham dengan sebaran kepemilikan luas. Pemilik saham HSC tetap bisa bertransaksi, tetapi tidak lagi bisa membaca kinerja sahamnya lewat IHSG.

Emiten HSC juga menghadapi konsekuensi. Harga saham mereka tidak lagi memengaruhi IHSG selama kepemilikan masih terkonsentrasi. Jalan kembali terbuka setelah emiten keluar dari kategori HSC. Aturan ini sekaligus memberi insentif untuk memperluas porsi saham yang dimiliki publik.

Kebijakan ini tidak menghapus satu pun saham dari bursa, tetapi mengubah cara pasar membaca IHSG. Menjelang 2 November 2026, investor punya alasan memeriksa sebaran kepemilikan saham yang mereka pegang. Fakta di balik angka itu pada akhirnya menyangkut kepercayaan banyak orang terhadap indeks.

Sumber: Pengumuman BEI Nomor Peng-00201/BEI.POP/10-2026, konferensi pers BEI (19/10/2026)