Konser Ye Jakarta pada Sabtu (24/10/2026) menarik sekitar 70.000 penonton ke Stadion Utama Gelora Bung Karno, termasuk 25.000 wisatawan dari 80 negara. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut konser itu bersama Jakarta Running Festival memutar ekonomi ibu kota sekitar Rp625 miliar dalam satu pekan.
Bagi banyak penggemar, malam itu menjadi penantian panjang. Ye, musisi yang dulu dikenal sebagai Kanye West, memilih Jakarta sebagai satu-satunya titik tur di Asia Tenggara dan Oseania. Promotor Raw Vision Collective membawa panggung bola dunia raksasa ke GBK, dan penggemar dari berbagai negara mengatur perjalanan demi satu malam itu.
Konser ini merupakan bagian dari Ye Live Concert Tour yang dimulai pada 1 April 2026. Sejak tiket dijual pada 29 Juli, penyelenggara melaporkan pembeli datang dari puluhan negara. Pemerintah pun melihat peluang besar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Dampak Konser Ye Jakarta bagi Hotel dan Wisatawan
Lonjakan wisatawan paling terasa di sektor perhotelan. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta melaporkan tingkat hunian hotel di sekitar lokasi konser mendekati 100 persen. Angka itu merujuk pada hotel di sekitar venue, bukan seluruh hotel di Jakarta.
Penonton asing datang dari Australia, Singapura, hingga Tiongkok. Selain menonton, mereka menginap, makan, berbelanja, dan memakai transportasi umum. Pemprov DKI juga mencatat lebih dari 30.000 pengunjung dari luar Jakarta hadir untuk konser tersebut.
Realisasi ini melampaui proyeksi awal. Pada pertengahan September, Fortune Indonesia memberitakan perkiraan sekitar 11 ribu wisatawan mancanegara. Data penyelenggara kemudian menunjukkan angka 25.000 penonton asing. Pramono sejak awal menilai konser ini membuka peluang bagi berbagai sektor ekonomi Jakarta.
Angka Rp625 Miliar dan Perbedaan Hitungan
Pramono menjelaskan, angka Rp625 miliar berasal dari dua acara di akhir pekan yang sama. Konser Ye menyumbang sekitar Rp450 miliar. Jakarta Running Festival 2026 menambah Rp175 miliar berdasarkan hitungan Asisten Keuangan Pemprov DKI.
Kementerian Pariwisata menyebut angka berbeda untuk konser saja, yaitu Rp600 miliar. Estimasi itu bersumber dari data Raw Vision Collective dan PHRI DKI Jakarta. Cakupannya meliputi tiket, kuliner, merchandise, dan transaksi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Perbedaan ini wajar karena tiap pihak memakai metode dan cakupan hitung yang tidak sama. Pemprov DKI sebelumnya hanya memproyeksikan di atas Rp150 miliar untuk dua acara tersebut. Semua angka itu masih berupa perkiraan, bukan hasil audit independen.
Wajah di Balik Perputaran Uang
Di balik deretan angka, ada ribuan orang yang bekerja. Kementerian Pariwisata mencatat penyelenggaraan konser melibatkan sekitar 5.000 pekerja. Pedagang kuliner, pelaku UMKM, sopir, dan karyawan hotel ikut merasakan ramainya akhir pekan itu.
Pemerintah juga menyiapkan dukungan di lapangan. PT MRT Jakarta memperpanjang jam layanan hingga dini hari agar penonton pulang dengan aman. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut konser ini momentum penting bagi pariwisata Indonesia.
Konser Ye di GBK menunjukkan bahwa satu pertunjukan besar bisa menggerakkan hotel, dapur warung, hingga lapangan kerja musiman. Tantangan berikutnya adalah menjaga kepercayaan penyelenggara dan penggemar dunia agar Jakarta terus menjadi tujuan wisata musik. Para pelaku usaha kecil kini menunggu apakah lonjakan akhir pekan ini berlanjut pada konser internasional berikutnya.
Sumber data: Pemprov DKI Jakarta (Gubernur Pramono Anung) via Periskop.id dan Kumparan, Kementerian Pariwisata via Media Indonesia dan JawaPos.com, Fortune Indonesia, serta data penyelenggara Raw Vision Collective dan PHRI DKI Jakarta. Diperbarui 27 Oktober 2026.