Daerah

BPBD Kota Jambi Salurkan 2,25 Juta Liter Air Bersih ke Warga

Doni, Kepala Pelaksana BPBD Kota Jambi
Doni, Kepala Pelaksana BPBD Kota Jambi

BPBD Kota Jambi menyalurkan 2.252.403 liter air bersih bagi warga yang terdampak kemarau hingga Sabtu, 24 Oktober 2026. Delapan armada dari PDAM, TNI, PMI, dan pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjangkau permukiman yang kesulitan air.

Kekeringan yang berlangsung cukup lama membuat sejumlah warga Kota Jambi harus berjuang memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Menanggapi kondisi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi mencatat penyaluran air bersih telah mencapai 2.252.403 liter per Sabtu, 24 Oktober 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Jambi, Doni Sumtriadi, menjelaskan pihaknya tidak bekerja sendiri dalam mendistribusikan air. Ia menyebut delapan unit kendaraan operasional dikerahkan agar bantuan dapat sampai ke wilayah yang membutuhkan.

“Alhamdulillah, terkait dengan distribusi air itu kita kan menyiapkan delapan mobil,” ujar Doni, seperti dilansir , Sabtu (24/10/2026).

Delapan Armada Siaga Layani Warga

Armada tersebut terdiri dari empat mobil milik PDAM, dua unit dari Batalyon 135, satu unit Palang Merah Indonesia (PMI), serta satu mobil pemadam kebakaran. Mobil pemadam digunakan untuk layanan cepat dengan memakai tandon air.

Kehadiran berbagai instansi ini menjadi penting karena kebutuhan air tidak hanya datang dari satu titik. Warga di permukiman yang jauh dari sumber air maupun wilayah dengan tekanan air rendah tetap harus dilayani secara merata.

Pemerintah Kota Jambi juga telah memperpanjang status siaga darurat bencana kekeringan hingga 31 Oktober 2026. Keputusan itu menjadi dasar bagi BPBD dan instansi terkait untuk mempercepat pemantauan serta penyaluran bantuan di lapangan.

Doni mengimbau warga yang membutuhkan air untuk segera melapor. Masyarakat dapat menghubungi layanan darurat 112, ketua RT, atau lurah di wilayah masing-masing.

“Bagi masyarakat yang membutuhkan air, silakan telepon 112 atau menghubungi ke ketua RT atau lurah setempat,” katanya.

Gangguan Kesehatan Meningkat

Krisis air bersih bukan satu-satunya masalah yang dihadapi warga. Data surveilans kesehatan yang disampaikan BPBD Kota Jambi mencatat 17.086 pasien mengalami gangguan kesehatan selama periode dampak kemarau dan kabut asap.

Dari jumlah tersebut, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi keluhan terbanyak dengan 14.626 pasien. Kasus diare tercatat 1.832 pasien, sementara konjungtivitis atau mata merah mencapai 628 pasien.

Kondisi udara yang buruk, kurangnya air bersih, dan perubahan pola kebersihan dapat memperbesar risiko penyakit tersebut. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan menjadi kelompok yang paling perlu dijaga.

Warga diimbau memakai air bersih untuk minum dan kebutuhan dapur, mencuci tangan secara rutin, serta memakai masker saat aktivitas di luar rumah. Jika mengalami sesak napas, diare berat, atau mata yang semakin merah, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Kewaspadaan Karhutla Masih Dibutuhkan

Selain kekeringan, pihak berwenang juga terus mewaspadai risiko kebakaran. BPBD Kota Jambi mencatat sekitar 143 kejadian kebakaran sejak Januari 2026, termasuk kebakaran yang terjadi di kawasan permukiman dan pembakaran sampah.

Perlu ditegaskan, data resmi Pemerintah Kota Jambi per akhir Agustus 2026 menyebut Kota Jambi belum tercatat mengalami kebakaran hutan dan lahan. Namun, asap dari wilayah sekitar tetap berdampak pada kualitas udara dan kesehatan warga Kota Jambi.

Upaya pemadaman di sejumlah titik dilakukan melalui kerja sama tim gabungan. Pemerintah pusat juga memberikan dukungan anggaran penanganan karhutla, terutama untuk daerah dengan kawasan hutan yang luas.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi hujan di Kota Jambi diperkirakan baru muncul pada dasarian pertama November 2026. Sampai waktu tersebut, warga tetap diminta menggunakan air secara bijak, menghindari pembakaran terbuka, dan menjaga kesehatan keluarga.

Bagi warga Kota Jambi, penyaluran 2,25 juta liter air bersih adalah bantuan nyata di tengah kemarau. Namun, kesiapan melapor, penggunaan air yang hemat, dan perhatian pada kesehatan tetap menjadi kunci agar dampak bencana tidak semakin meluas.