Mancanegara

Gelombang Pengunduran Diri Pejabat Trump Usai Pemilu Sela AS 2026

pengunduran diri pejabat Trump
pengunduran diri pejabat Trump

Gelombang pengunduran diri melanda pemerintahan Donald Trump setelah pemilu sela AS 2026. Tiga pejabat Kementerian Kehakiman AS mundur, sementara Susie Wiles digantikan Stephen Miller sebagai Kepala Staf Gedung Putih.

Pemerintahan Donald Trump menghadapi gelombang pengunduran diri pejabat senior pada 5 hingga 6 November 2026, setelah Partai Republik kalah dalam pemilu sela AS. Perubahan tersebut melanda Kementerian Kehakiman AS dan lingkaran inti Gedung Putih.

Setelah Harmeet Dhillon mengundurkan diri dari Divisi Hak Sipil pada 5 November, dua pejabat tinggi Kementerian Kehakiman AS menyusul pada Jumat, 6 November. Mereka adalah John Eisenberg dan Jason Reding Quiñones.

Eisenberg menjabat sebagai Asisten Jaksa Agung yang memimpin Divisi Keamanan Nasional. Sementara Reding Quiñones merupakan Jaksa AS untuk Distrik Selatan Florida, yang memimpin penyelidikan yang dikenal sebagai “grand conspiracy”.

Reuters melaporkan bahwa penyelidikan tersebut berfokus pada penyelidikan kriminal masa lalu terhadap Trump. Namun, alasan pengunduran diri Eisenberg dan Reding Quiñones belum dijelaskan secara resmi.

Tiga pejabat Kementerian Kehakiman AS mundur

Jaksa Agung Todd Blanche mengonfirmasi kepergian ketiga pejabat tersebut. Ia menyampaikan apresiasi atas layanan mereka, meski tidak menjelaskan latar belakang keputusan masing-masing pejabat.

Blanche menyebut Reding Quiñones telah memimpin upaya menangani kejahatan keras, penyelundupan narkoba, perdagangan manusia, serta kejahatan lintas negara.

“Kami berterima kasih atas kepemimpinan Jason dalam memberantas kejahatan keras, penyelundupan narkoba, perdagangan manusia, dan kejahatan lintas negara,” kata Blanche, seperti dikutip ABC 13.

Kepergian tiga pejabat tersebut meninggalkan Kementerian Kehakiman AS tanpa pimpinan pada dua inisiatif penting. Keduanya mencakup upaya membuka kembali penyelidikan masa lalu terkait Trump dan kebijakan yang menyasar perguruan tinggi.

Kondisi itu menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan sejumlah agenda hukum pemerintahan Trump. Kementerian Kehakiman AS belum mengumumkan pengganti untuk posisi-posisi yang ditinggalkan.

Susie Wiles digantikan Stephen Miller

Perubahan juga terjadi di jantung Gedung Putih. Presiden Donald Trump mengumumkan pada 6 November bahwa Stephen Miller akan menggantikan Susie Wiles sebagai Kepala Staf Gedung Putih.

Miller resmi menjabat mulai Senin, 9 November 2026. Trump menyebut Miller sebagai salah satu penasihat paling tepercaya dan Wakil Kepala Staf pemerintahannya.

“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Stephen Miller, Wakil Kepala Staf Pemerintahan Trump saat ini dan salah satu penasihat paling tepercaya saya, akan menjadi Kepala Staf mulai Senin, 9 November 2026,” tulis Trump di Truth Social, dikutip CBS.

Wiles, yang menjabat sebagai Kepala Staf Gedung Putih, mengajukan pengunduran diri pada Kamis malam. Trump memuji kinerjanya dan menyatakan Wiles akan pindah ke organisasi politik Trump.

Dalam pernyataannya, Wiles menyebut melayani Trump di Gedung Putih sebagai kehormatan seumur hidup. Ia menegaskan komitmennya kepada presiden dan misi pemerintahan tidak akan berubah.

“Melayani Presiden Trump di Gedung Putih telah menjadi kehormatan seumur hidup. Saya sangat bangga menjadi bagian dari apa yang telah kita capai bersama,” kata Wiles dalam unggahan media sosialnya.

Marco Rubio dipertanyakan mundur

Selain pejabat yang telah resmi mundur, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan menimbang langkah keluar dari pemerintahan. Laporan Bloomberg, yang dikutip Miami Herald, menyebut Rubio sedang mempertimbangkan masa depannya setelah kekalahan Partai Republik.

Rubio menjabat sebagai Menteri Luar Negeri sekaligus Penasihat Keamanan Nasional. Namun, Kementerian Luar Negeri AS membantah bahwa Rubio sedang mempertimbangkan pengunduran diri.

Sumber yang tidak disebutkan namanya menyatakan Rubio telah berbicara dengan pejabat Gedung Putih mengenai kemungkinan mundur. Ia dilaporkan diminta tetap bertahan, meski belum ada keputusan atau jadwal kepergian.

Kondisi ini menunjukkan tekanan politik yang semakin besar di dalam pemerintahan Trump. Kekalahan pemilu sela tidak hanya mengubah komposisi Kongres, tetapi juga memicu evaluasi jabatan di lingkaran kekuasaan.

Dampak politik bagi Trump

Presiden Donald Trump mengakui bahwa perang melawan Iran turut memengaruhi hasil pemilu sela. Ia menyebut kemarahan harga bahan bakar yang meningkat sebagai salah satu faktor yang memengaruhi suara pemilih.

Trump menyatakan akan menerima hasil pemilu dan bersedia bekerja dengan Partai Demokrat. Namun, ia juga berjanji akan memveto RUU yang diajukan Demokrat apabila sampai ke mejanya.

Menurut Associated Press, Trump juga menyatakan tidak akan campur tangan dalam pemilihan pimpinan Partai Republik di DPR. Ia menilai Ketua DPR Mike Johnson tetap layak memimpin fraksi tersebut.

Gelombang pengunduran diri ini menjadi ujian baru bagi stabilitas pemerintahan Trump. Perubahan personel senior dapat memengaruhi kecepatan kebijakan, koordinasi lembaga, serta hubungan Gedung Putih dengan Kongres.

Sampai 7 November 2026, fokus utama adalah siapa yang akan mengisi posisi kosong di Kementerian Kehakiman AS. Keputusan tersebut akan menentukan arah sejumlah agenda hukum dan politik pemerintahan Trump dalam bulan-bulan mendatang.