Kesehatan

Dampak Makan Tergesa-gesa pada Pencernaan dan Risiko Obesitas

dampak makan tergesa-gesa
dampak makan tergesa-gesa

Kebiasaan makan tergesa-gesa yang berlangsung kurang dari 30 menit dapat mengganggu proses pencernaan dan meningkatkan risiko obesitas serta gangguan metabolik. Temuan terkini dari sejumlah studi memperkuat peringatan dokter mengenai dampak jangka panjang kebiasaan ini bagi kesehatan tubuh.

Banyak orang di tengah kesibukan sehari-hari menghabiskan makanan hanya dalam hitungan menit. Kebiasaan makan tergesa-gesa ternyata bukan sekadar mengurangi kenikmatan, melainkan memicu sejumlah masalah pada sistem pencernaan dan metabolisme. Data yang beredar pada awal November 2026 menegaskan kembali risiko tersebut berdasarkan tinjauan ilmiah.

Proses pencernaan sebenarnya dimulai di mulut. Enzim dalam air liur membantu memecah karbohidrat sejak makanan dikunyah. Ketika seseorang menelan makanan terlalu cepat tanpa mengunyah sempurna, potongan besar masuk ke lambung. Organ tersebut terpaksa bekerja lebih keras untuk menghancurkan makanan.

Akibatnya, udara ikut tertelan lebih banyak. Kondisi ini dikenal sebagai aerofagia dan sering menimbulkan kembung, begah, serta gas berlebih di saluran pencernaan. Beberapa orang juga merasakan nyeri ulu hati atau sensasi panas di dada setelah makan cepat.

Dampak Makan Tergesa-gesa terhadap Sistem Pencernaan

Ahli gastroenterologi mencatat bahwa makan terlalu cepat membebani sfingter esofagus bagian bawah. Katup ini berfungsi mencegah asam lambung naik ke kerongkongan. Tekanan yang meningkat akibat volume makanan besar dalam waktu singkat dapat memicu refluks asam.

Penelitian di Korea Selatan yang melibatkan lebih dari 10.000 orang dewasa menemukan hubungan jelas. Mereka yang menghabiskan waktu makan kurang dari lima menit memiliki risiko gastritis sekitar 1,7 kali lebih tinggi dibanding yang makan setidaknya 15 menit. Temuan ini sering dikutip dalam pembahasan kesehatan pencernaan terkini.

Penyerapan nutrisi juga menjadi kurang optimal. Tubuh membutuhkan waktu untuk mengeluarkan cairan pencernaan seperti empedu dan enzim. Jika makanan masuk terlalu cepat, proses pemecahan tidak tuntas. Vitamin, mineral, dan zat gizi lain tidak terserap maksimal.

Dokter spesialis yang aktif membahas isu kesehatan, dr. Adam Prabata, menyoroti aspek metabolik dari kebiasaan ini. “Penelitian dari Tiongkok pada 2018 ini menunjukkan bahwa terbiasa makan terburu-buru dapat meningkatkan terjadinya berbagai kondisi metabolik yang berbahaya antara lain peningkatan lemak darah, peningkatan risiko darah tinggi, peningkatan risiko sindrom metabolik,” ujarnya dalam unggahan yang banyak dibahas pada 7 November 2026.

Hubungan dengan Obesitas dan Gangguan Metabolik

Otak membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menerima sinyal kenyang dari lambung melalui hormon. Orang yang makan tergesa-gesa sering melewati batas kenyang sebelum sinyal tersebut sampai. Akibatnya, asupan kalori menjadi berlebih.

Studi tinjauan yang merangkum 52 penelitian menunjukkan definisi makan terburu-buru sebagai durasi di bawah 30 menit. Mereka yang makan lebih lama dari itu justru memiliki risiko overweight dan obesitas lebih rendah. Penelitian di Jepang yang melibatkan sekitar 800 orang memperkuat temuan serupa. Risiko overweight meningkat hingga lima kali lipat, sementara risiko obesitas mencapai empat kali lipat.

Lonjakan gula darah juga lebih cepat terjadi pada orang yang makan dalam waktu kurang dari 10 menit dibanding yang makan selama 20 menit. Respon insulin menjadi kurang optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik.

Sumber medis dari Cleveland Clinic dan sejumlah laporan kesehatan internasional mencatat pola yang sama. Makan cepat membuat seseorang mengonsumsi lebih banyak makanan dalam 20 menit pertama dibanding mereka yang makan perlahan. Perut terasa penuh, namun sinyal kenyang belum sempurna diterima otak.

Cara Mengurangi Kebiasaan Makan Tergesa-gesa

Perubahan kebiasaan dapat dilakukan secara bertahap. Mulailah dengan meletakkan sendok atau garpu di antara suapan. Kunyah setiap gigitan hingga 20 hingga 30 kali agar makanan hancur sempurna sebelum ditelan.

Hindari distraksi seperti menonton layar ponsel atau televisi saat makan. Fokus pada aroma, tekstur, dan rasa makanan membantu tubuh mengenali sinyal kenyang lebih baik. Alokasikan setidaknya 20 hingga 30 menit untuk setiap makan utama.

Para ahli menekankan pentingnya mindful eating. Kebiasaan ini tidak hanya melindungi pencernaan, tetapi juga membantu menjaga berat badan dan kesehatan metabolik secara keseluruhan. Jika keluhan kembung, nyeri perut, atau gejala refluks sering muncul setelah makan cepat, konsultasi dengan dokter spesialis pencernaan sangat dianjurkan.

Makan tergesa-gesa mungkin terasa efisien di tengah padatnya jadwal. Namun, dampaknya terhadap pencernaan dan risiko obesitas sudah terbukti melalui berbagai studi. Membiasakan diri makan lebih tenang menjadi langkah sederhana yang memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan tubuh.