Efek karhutla Kalimantan menekan ekonomi kuartal III 2026 hingga tumbuh hanya 3,96 persen. Badan Pusat Statistik menyebut subsektor kehutanan ikut terkontraksi.
Jakarta, 6 November 2026 — Efek karhutla Kalimantan mulai terlihat jelas pada kinerja ekonomi kuartal III 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Pulau Kalimantan tumbuh 3,96 persen secara tahunan, angka terendah dibanding lima wilayah besar lainnya di Indonesia. Pertumbuhan itu juga melambat dari capaian 4,68 persen pada kuartal III 2025.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menyampaikan temuan tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis 5 November 2026. Ia menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan mengganggu aktivitas ekonomi, terutama di daerah yang menghadapi titik api dan kabut asap berkepanjangan.
“Dari sisi lapangan usaha, dampak karhutla terhadap pertumbuhan ekonomi dapat diamati secara langsung melalui kinerja sektor kehutanan,” ujar Edy.
Kehutanan Terkontraksi 2,52 Persen
Tekanan paling tajam tampak pada subsektor kehutanan. BPS mencatat subsektor ini terkontraksi 2,52 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Kondisi itu berbalik arah dari kuartal II 2026, ketika subsektor kehutanan masih tumbuh 6,02 persen.
Artinya, dalam satu kuartal, kinerja kehutanan berubah dari pertumbuhan kuat menjadi negatif. BPS menilai pergeseran tersebut mencerminkan gangguan pada kegiatan yang bergantung pada hutan, lahan, serta lingkungan yang sehat dan produktif.
Dampaknya tidak berhenti di sektor kehutanan. Kabut asap menurunkan mobilitas warga, menghambat transportasi, serta menekan aktivitas perdagangan dan jasa di sejumlah wilayah. Kondisi ini membuat potensi pendapatan usaha kecil turun, sementara biaya penanganan bencana meningkat.
Kalimantan Tengah Paling Tertekan
BPS menyebut Kalimantan Tengah menjadi salah satu provinsi yang pertumbuhannya paling tertahan akibat karhutla. Provinsi tersebut hanya menyumbang 0,22 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Kalimantan pada kuartal III 2026, kontribusi terendah dibanding provinsi lain di pulau itu.
Sebaliknya, Kalimantan Timur tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi 1,78 persen. Kalimantan Barat menyumbang 0,79 persen, Kalimantan Selatan 0,74 persen, dan Kalimantan Utara 0,43 persen.
Meski demikian, sumber pertumbuhan utama Kalimantan masih berasal dari industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan karhutla belum sepenuhnya mematahkan basis ekonomi pulau, tetapi cukup kuat untuk menahan laju pemulihan.
Biaya Ekonomi dan Kesehatan Membengkak
Kajian Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang dirilis pada 2 November 2026 memperkirakan biaya ekonomi dan kesehatan akibat karhutla nasional berada pada kisaran Rp359,58 triliun hingga Rp565,03 triliun. Estimasi tersebut menggunakan data kebakaran yang diakses per 20 Oktober 2026.
Untuk Kalimantan Barat, CELIOS memperkirakan potensi kerugian ekonomi mencapai Rp41,91 triliun. Kalimantan Tengah diperkirakan menanggung kerugian Rp32,89 triliun. Sementara itu, Kalimantan Timur diperkirakan kehilangan potensi PDRB sebesar Rp11,498 triliun atau sekitar 2,3 persen.
Dampak kesehatan juga menjadi beban ekonomi. Berdasarkan data pemerintah per 2 November 2026, sekitar 401.586 orang di tujuh provinsi mengalami gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Jumlah tersebut mencakup 63 kabupaten/kota yang terdampak karhutla.
Biaya berobat, hilangnya produktivitas, gangguan transportasi, dan penurunan kunjungan konsumen membentuk tekanan berlapis. Bagi pelaku usaha kecil, penurunan permintaan dalam waktu singkat dapat berdampak besar pada arus kas dan kesempatan kerja.
Pemulihan Ekonomi Kalimantan
Pemulihan ekonomi Kalimantan membutuhkan penanganan karhutla yang lebih cepat dan terukur. Pemerintah perlu memperkuat pemadaman dini, pengawasan kawasan rawan, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan.
Pada saat yang sama, perlindungan bagi warga terdampak perlu dipercepat. Penyediaan air bersih, bantuan pangan, layanan kesehatan, dan dukungan bagi UMKM dapat membantu mencegah kerugian ekonomi meluas ke kuartal berikutnya.
Data BPS menunjukkan karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan kini menjadi faktor yang menekan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026, terutama di Kalimantan. Jika penanganan berjalan efektif, pemulihan sektor kehutanan dan aktivitas usaha lokal dapat mulai terlihat pada kuartal IV 2026.